Tentang Evidence Based

Dalam beberapa tahun terakhir atau tepatnya beberapa bulan terakhir kita sering mendengar tentang Evidence Base. Evidence Base artinya berdasarkan bukti. Artinya tidak lagi berdasarkan pengalaman atau kebiasaan semata. Semua harus berdasarkan bukti. Bukti inipun tidak sekedar bukti. Tapi bukti ilmiah terkini yang bisa dipertanggungjawabkan.
Ketika kita mengatakan anggaran kesehatan kurang maka pertanyaanya adalah apakah dasarnya sehingga dikatakan kurang ? Maka disusunlah apa yang disebut dokumen NHA (National Health Account), PHA (Provincial health Account) dan DHA (District Health Account). Dokumen tersebut dapat menjadi evidence base ketika kita mengatakan banyak hal tentang pembiayaan kesehatan. Demikian juga pada tingkat klinik. Evidence base yang dalam tataran klini disebut Evidence Based Medicine (EBM) menjadi hal mutlak yang harus diberlakukan. Prof. Iwan Dwiprahasto, salah seorang pengajar di UGM pada saat mengajar tidak akan lupa mengingatkan mahasiswanya bahwa ilmu yang diajarnya saat itu pada saat mahasiswa tersebut tamat mungkin sudah tidak berlalu.


Hal ini terjadi karena llmu Kedokteran berkembang sangat pesat. Temuan dan hipotesis yang diajukan pada waktu yang lalu secara cepat digantikan dengan temuan baru yang segera menggugurkan teori yang ada sebelumnya. Sementara hipotesis yang diujikan sebelumnya bisa saja segera ditinggalkan karena muncul pengujian-pengujian hipotesis baru yang lebih sempurna. Sebagai contoh, jika sebelumnya diyakini bahwa episiotomi merupakan salah satu prosedur rutin persalinan khususnya pada primigravida, saat ini keyakinan itu digugurkan oleh temuan yang menunjukkan bahwa episiotomi secara rutin justru sering menimbulkan berbagai permasalahan yang kadang justru lebih merugikan bagi quality of life pasien. Demikian pula halnya dengan temuan obat baru yang dapat saja segera ditarik dan perederan hanya dalam waktu beberapa bulan setelah obat tersebut dipasarkan, karena di populasi terbukti memberikan efek samping yang berat pada sebagian penggunanya.


Bukti ini juga mempunyai tingkat kepercayaan untuk dijadikan sebagai evidence base. Untuk tingkat paling tinggi (Ia) adalah hasil penelitian dengan meta analisis dibawahnya atau level Ib adalah hasil penelitian dengan randomized control trial, IIa. non randomized control trial, IIb. adalah hasil penelitian quasi eksperime lalu hasil studi observasi (III) dan terakhir expert opinion, clinical experience (IV). Untuk mendapatkan bukti ini bisa diperoleh dari berbagai macam hasil penelitian yang telah dipublikasikan oleh berbagai macam media.
Itulah evidence base. Melalui paradigma baru ini maka setiap pendekatan medik barulah dianggap accountable apabila didasarkan pada temuan-temuan terkini yang secara medik, ilmiah, dan metodologi dapat diterima.

About these ads
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: