Archive for the ‘ Rasa Mbojo ‘n Zona Interisti ’ Category

Mahasiswa Bima di Yogya

Mahasiswa dari Bima, baik Kabupaten maupun Kota Bima sebenarnya sangat banyak yang menempuh pendidikan di Yogyakarta. Hal ini sudah berlangsung lama. Ribuan mahasiswa Bima ini menyebar hamper disemua Universitas yang ada di Yogyakarta. Mulai dari D3 hingga S3. Bahkan yang berasal dari satu desa/kampung bisa lebih 15 orang.

Di Yogyakarta, disamping memiliki asrama yang disediakan oleh pemerintah daerah, mahasiswa Bima menyebar di kost, kontrakan maupun asrama kampus yang ada di Yogyakarta. Sebulan sekali biasanya ada pertemuan silaturahim dengan para sesepuh/tokoh masyarakat Bima yang ada di Yogyakarta. Atau secara insidentil mengadakan pertemuan menurut kelompok masing-masing. Misalnya Keluarga Mahasiswa Bima-Kepma, Perkumpulan Mahasiswa Pasca Sarjana-Pusmaja, perkumpulan yang kost dekat UGM, UNY-Sunmor, perkumpulan menurut daerah/kecamatan/desa asal dari Bima, missal mahasiswa Sape, Wera, Ngali, Donggo, Bolo, Woha, dll.

Mengingat jumlahnya yang begitu banyak sudah pasti tidak semua saling mengenal. Dengan bahasa Bima, akan menjadi penanda khas kalau itu dari Bima. Tapi terkadang pertemuan bisa terjadi dengan tanpa disengaja oleh banyak situasi. Om Hendra yang dulu sama-sama di PMI Bima malah ketemu di Pusmaja, Om Dedy malah ketemu saat saya dan dia sebagai panitia dan peserta seminar. Didi yang ketemu di Keraton, teman, adinda dari Pane di ATM, banyak lagi, misal Syahruman yang biasanya sendirian saja makan di SS ternyata dari Bima. Atau beberapa yang dengan logat khasnya bertemu di Sunmor, di kampus atau lainnya. Menyenangkan, bisa berjumpa dengan sesama dari daerah. Sama-sama semangat untuk belajar di negeri Ngayogyakarta ini…

Inilah sebagian potret mereka….

Pakaian dari Tenun Ikat Bima

Tanggal 6-10 September 2014, Bima akan menjadi tuan rumah Festival Keraton Nusantara (FKN) IX. Berbagai persiapan telah dilakukan oleh Pemerintah Kota maupun Kabupaten Bima untuk menyambut kegiatan diikuti oleh keraton/kerajaan se-nusantara ini. Hotel dan penginapan yang ada di Bima akan dipenuhi oleh para tamu dari penjuru nusantara. Hal yang istimewa tentunya bisa berkunjung ke daerah ujung timur NTB ini. Seperti kelajiman orang-orang yang berkunjung, maka oleh-oleh adalah hal yang tidak boleh dilupakan. Salah satunya tenunan ikat Bima. Tenunan ikat Bima telahdihasilkan oleh para perajin tradisional di Kota Bima maupun Kabupaten Bima. Untuk 1 helai tenun ikat Bima, butuh waktu lebih kurang tujuh hari untuk menyelesaikannya. Tenunan ikat Bima bahkan beberapa waktu lalu dipakai oleh Presiden Sby untuk menyambut tamu Negara pada sebuah acara konferensi dunia di Bali.

Nah, seperti apakah nantinya tenunan Bima? Berikut adalah foto-foto karyawan di Bima yang memakai pakaian tenunan ikat Bima untuk bekerja.

Mengapa Rumah Sakit Harus BLUD?

rsudDalam beberapa kesempatan diskusi antara lain dengan teman-teman pers atau stakeholder tersirat kalau pemahaman tentang BLUD (Badan Layanan Umum Daerah) masih terbatas kalau gak dikatakan banyak yang salah persepsi. Hal tersebut adalah wajar. Jangankan masyarakat awam, para pelaku BLUD atau bahkan yang sudah mendapatkan ‘wejangan’ tentang BLUD masih ada yang tidak memahami secara utuh. Padahal BLUD bagi sebuah rumah sakit adalah keharusan menurut amant undang-undang.

BLUD adalah adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah atau Unit Kerja pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkungan pemerintah daerah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan, dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas.

Dengan membaca pengertian ini, maka dapat dipahami bahwa BLUD TIDAK MENGUTAMAKAN MENCARI KEUNTUNGAN. Hal ini yang membedakan BLUD dengan BUMN/D. Tapi dalam pelaksanaanya BLUD harus tetap menggunakan prinsip efiensi dan produktifitas serta praktek bisnis yang sehat. Praktik bisnis yang sehat artinya berdasarkan kaidah manajemen yang baik mencakup perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengendalian dan pertanggungjawaban.

Kembali ke topik.

Intansi pelayanan publik apalagi rumah sakit harus diakui masih memiliki banyak kekurangan dalam pelayanan publik. Masyarakat cenderung tidak puas karena : pelayanan tidak diberikan dengan profesional, tidak cepat, prosedur yang terbelit-belit. Lalu terjadi diskriminasi pelayanan, kalau masyarakat yang bersangkutan mempunyai jabatan atau uang, akan cepat dilayani, akan tetapi kalau masyarakat biasa (miskin) belakangan. Kinerja pelayanan aparatur yang kurang, praktek pungutan liar, biaya tidak transparan (katanya gratis tetapi kenyataan di lapangan masih harus bayar, membayarnyapun tidak ada standarnya), dan lain-lain kondisi riil pelayanan publik kita. Hal ini tentu saja tidak adil, tentu saja memboroskan anggaran negara atau tidak tepat sasaran.

Hal inilah kemudian melahirkan ide (peraturan, produk hukum) yang mengharuskan instansi pelayanan publik untuk menjadi BLUD. Khusus bagi rumah sakit daerah, BLUD merupakan solusi terbaik untuk mengatasi banyak  persolan /keluhan pasien saat ini. Bagi pasien, mereka tidak mau tau dengan segala macam peraturan administrasi seperti uang harus dicairkan dahulu ke kas Pemda baru dibelanjakan. Bagi mereka hanya satu : SEGERA DILAYANI.

Maka bagi rumah sakit yang sudah BLUD akan memiliki beberapa fleksibilitas yang dikecualikan dari yang berlaku umum. Pengecualian ini bukan berarti BLUD menabrak undang-undang/hukum. Ada peraturan ‘turun temurun’ yang sangat panjang dan komplet yang memerintahkan atau menaunginya. Peraturan itulah kemudian yang membolehkan RS memiliki kas sendiri (kalau ada keperluan, langsung bisa diambil dari kas dan dibelanjakan untuk pelayanan). BLUD juga memungkinkan untuk bekerjasama dengan pihak lain sepanjang menguntungkan, bisa melakukan pengadaan barang dan jasa dengan besaran nilai diluar ketentuan Perpres 70/2012, bisa menghapus aset, bahkan BLUD bisa berhutang. Ketentuan tentang belanja langsung maupun pengadaan barang ini HANYA BERLAKU BAGI PENDAPATAN YANG BERASAL DARI BUKAN APBD/N. Sebab pendapatan yang berasal dari APBD/N, tetap mengikuti ketentuan yang berlaku umum. Dengan berbagai fleksibilitas tersebut maka diharapkan RSUD tidak ada lagi kendala dalam melayani masyarakat.RSUD Bima BLUD_17

Rumah sakit yang sudah BLUD bukan berarti otomatis akan menjadi “meningkat” segalanya. Bukan berarti semua akan langsung seindah impian. Ada rumah sakit BLUD yang hanya asal gugur kewajiban saja. Tidak memberikan manfaat atau perubahan berarti bagi peningkatan mutu pelayanan. Karena itu bagi rumah sakit yang sudah BLUD perlu peningkatan kapasitas SDM, perubahan pola pikir (mindset), semangat kewirausahaan (enterpreneurship) bagi pengelola BLUD, stakeholder terkait mulai dari kepala daerah, sekretaris daerah, PPKD, Kepala BAPPEDA, dan Inspektur Daerah.. Perlu kerja keras dan kesamaan visi misi seluruh kemponen terkait BLUD. Semua harus seiring seirama. BLUD yang memiliki prinsip transparant, akuntabel, responsible dan independen akan berbeda dengan sebelum BLUD. Mindset semua SDM dituntut untuk berubah. Tadinya biasa dilayani, sekarang melayani. Tadinya pasien butuh RS, sekarang RS butuh pasien/pelanggan. Tadinya uang disetor ke kas Pemda, sekarang dikelola sendiri dikas BLUD. Dari mindset birokrat menjadi entrepreuner : Selalu melakukan hal yang inovatif, efisiensi di segala bidang, responsif, cepat tanggap kebutuhan pasien, bukan lagi terpaku pada rutinitas belaka.

Bila sebelum BLUD, mentalnya mental setoran, menghabiskan anggaran sebab bila anggaran tidak terserap/tidak habis, dianggap kinerjanya jelek. Setelah BLUD, mental SDM rumah sakit harus sebaliknya: Harus berhemat, harus efisien. Contoh kecil antara lain lampu yang masih menyala disiang hari/yang cukup cahayanya, AC yang tetap hidup padahal tidak ada yang memakai. Kalau tidak perlu print out, kenapa menghabiskan kertas dan tinta, dll.

Setelah BLUD manajer RS dituntut untuk menjadi manajer betulan, bukan sekedar kepala RS, Kepala keuangan, Kepala perencanaan, kepala staf dst… Tapi manajer keuangan, manajer SDM, manajer operasional. Manajer yang bisa memanaj setiap unit yang dipimpinnya.

Pemahaman tentang konsep Rencana Strategis Bisnis (RSB), Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA), Tata Kelola, Standar Pelayanan Minimal, Standar Akuntansi Keuangan (SAK), konsolidasian RBA dan laporan keuangan dengan APBD menjadi mutlak agar BLUD tidak salah langkah.

Pemahaman ini tidak bisa hanya dimiliki oleh segelintir orang, hanya bagian manajerial saja atau bagian administrasi saja atau bagian fungsional saja. Semua harus seirama. Semakin banyak yang paham BLUD akan semakin baik, sehingga para manajer RS tidak terlalu susah menggerakkan orang-nya untuk mencapai tujuan bersama.

Apalagi yang buat RS harus BLUD?

Yang sudah BLUD diharapkan tarifnya sesuai dengan unit cost. Dengan tarif berdasarkan unit cost inilah rumah sakit bisa memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang telah ditetapkan. Artinya, bila tarif lebih rendah dari unit cost maka SPM tidak akan terpenuhi. TarifRSU Harus BLUD yang lebih rendah dari unit cost juga berarti APBD/pemerintah ikut mensubsidi orang mampu. Sehingga penetapan tarif hanya untuk kelas III yang berdasarkan Peraturan daerah (Perda) sedangkan kelas II, I dan ke atas cukup dengan Peraturan bupati (Perbub). Sehingga bila tarif pelayanan untuk orang miskin/kelas III lebih rendah dari unit cost, disitulah subsidi pemerintah diperlukan.

Kepada SDM RS yang sudah BLUD juga dapat diberikan remunerasi. Pejabat pengelola BLUD, Dewan pengawas, Sekretaris dewan pengawas dan pegawai BLUD dapat diberikan remunerasi sesuai dengan tingkat tanggungjawab dan tuntutan profesionalisme yang diperlukan. Sehingga tidak lagi pengaturannya seperti PNS, kalau golongan dan masa kerja sama, gaji yang diterima setiap bulan akan sama. Dalam BLUD besaran remunerasi dihitung berdasarkan indikator penilaian antara lain: pengalaman dan masa kerja, ketrampilan, ilmu pengetahuan dan perilaku, resiko kerja, tingkat kegawatdaruratan, jabatan yang disandang, dan hasil/capaian kinerjanya.

Dengan demikian maka Esensi dari rumah sakit yang sudah BLUD adalah agar dapat meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan efisiensi anggaran. Dengan BLUD, diharapakan sebuah rumah sakit akan meningkatkan kinerja pelayanan, kinerja keuangan dan kinerja manfaat nya. RSUD akan siap untuk melayani pasien dalam JKN/BPJS mulai 2014.

Ayo Ke Sirkuit Panda Bima

Motocross PandaYoooooooooooo………………
Begitu tereakan komentator setiap “besi-besi Jepang” itu menderu dari garis start. Lebih dari 10 Crosser beradu cepat membedah tanah dan menyisakan kepulan debu. Berpacu. Menderu… bersaing untuk jadi juara satu. Tak pelak, ketangkasan, kelihaian dan juga fisik mental beradu. Jika tidak, maka akan tertinggal. Akan ditinggal !

Gas dan kepulan debu serta jatuh bangun menjadi warna tersendiri yang membuat lomba semakin seru. Bahkan adu jotos bisa terjadi. Tetapi lomba tetaplah lomba. esensi semua olahraga adalah SPORTIFITAS.

Selamat untuk Abby crosser Bima yang mampu bersaing dengan para crosser nasional dari Lombok. terima kasih Wahyu, Ajis, Kest sudah berpartisipasi. terima kasih kepada KNPI Kabupaten Bima atas inisiatifnya. Tentu saja selamat untuk Abank dari Radom Motor Kota Bima yang meraih juara Umum berikut hadiah utama motor gede nya.

Welcome to Bima

Bima, nama salah satu daerah diujung timur Pulau Sumbawa Propinsi NTB. Bima saat ini terdiri dari dua Bimapemerintahan yaitu Kabupaten dan Kota Bima.

Penduduk Bima biasa menyebut dirinya Dou Mbojo. Dan ketika berinteraksi dengan Dou Mbojo, hampir pasti kita akan mendapati kata “Kalembo Ade”. Kata yang sangat luas arti atau maknanya. Sabar, harap maklum bahkan juga bisa berarti maaf, semangat dan optimis bahkan banyak lagi sesuai sikon pengucapannya.

Jika dulu hotel dan penginapan sangat terbatas, kini di Kota Bima sudah berdiri beberapa hotel “megah” dan nyaman untuk ukuran Bima. para tamu memiliki banyak pilihan. Demikian juga jenis jajanan maupun kuliner. Meski masih sangat terbatas untuk masakan khas Bima, tapi sebagai daerah yang dikelilingi laut, seafood tentu menjadi pilihan ideal.

Seafood di Kota Bima disediakan oleh hampir seluruh warung atau rumah makan. Jika bosan didalam gedung, bisa menikmati sambil menunggu sunset atau malam di Pantai Amahami, Lawata, Pertamina, Wadumbolo hingga batas Kota dan kabupaten Bima yaitu Ni’u. Atau jika ingin lebih jauh (sekitar 15-20 menit dari Kota Bima) bisa menuju arah Belo/Bandara Bima. Di Panda kita bisa menikmati sunset sambil menikmati kelapa muda atau jagung bakar/rebus yang disediakan disepanjang jalan.

Bosan berada di dalam hotel, bisa mengelilingi Kota Bima. Di ujung timur kota (Kumbe) bisa menikmati “oi tua” (Legen atau sari buah lontar) yang sangat manis. Pulang dari sana, bisa mampir di Rabadompu untuk melihat sentra-sentra pengrajin tenunan Bima.

Jika waktu masih cukup, bisa juga melihat aktifitas bongkar muat di Pelabuhan Bima bahkan menuju Ule. Dari atas jalanan Ule yang menuju Kolo kita bisa melihat Kota Bima dari arah laut. Pilihan lainnya adalah ke makam Raja-Raja Bima Danatraha. Dari ketinggian Danatraha hampir semua wilayah Kota Bima bisa dinikmati.

Untuk mengelilingi itu semua jika seorang diri, bisa menggunakan jasa Ojek yang banyak di seputaran Kota. Atau jika tujuannya dalam jarak dekat misal Museum ASI Mbojo dan pelabuhan bisa menggunakan jasa Benhur, alat transportasi lokal sejenis dokar/delman.

Selamat datang dan selamat menikmati Bima…..

Kue Pelangi

 Buah Karya : Farah Ika Melati

Pagi itu, Ikal sedang santai di rumahnya.. Seperti biasa, Ia bolak balik membaca beberapa buku cerita yang dibelikan ibunya. Saat asyik membaca tiba-tiba terdengar pintu diketuk orang.

 Tok!, tok!, tok!

“Assalamualaikum”, salam seseorang dari luar.

“Waalaikumsalam” jawab Ikal bergegas bangun dan menaruh bukunya diatas meja.

“Eh Silva, silakan masuk”, kata Ikal mempersilahkan Silva masuk.

Cerita Mela_Ikal mendengarkan penjelasan Silva

Ikal mendengarkan penjelasan Silva

“Kamu mau apa kemari, aku sedang asyik membaca buku nih” kata Ikal agak kesal dengan kedatangan Silva.

“Maaf ya, aku ganggu kamu, ini penting karena ada  berita menyenangan” kata Silva tersenyum

“Ha, berita menyenangkan?” tanya Ikal berbinar binar

“Kamu dan teman-teman yang lain akan ikut lomba memasak. kamu didaftarkan oleh ustadzah. Sahira sahabatmu juga ikut, loh”, kata silva menjelaskan.

“O iya, kamupun akan punya kelompok memasak bersama Ratih dan Putri”, lanjut Silva lagi.

Ikal terdiam.

“Wah, itu asyik sekali”, Seru Ikal.

“Tapi, kenapa Ratih

Cerita Mela_Ikal Sejenak Melamun

Ikal Sejenak Melamun

dan Putri yang membantuku? Kan lebih asyik jika berkelompok dengan Nikita dan Mira. Sebab Nikita nilainya tinggi. Demikian juga Mira. Sedangkan Ratih lemah  dan Putri nilainya selalu jelek” gumam Ikal dalam hati.

“Loh, kok, melamun?” tanya Silva mengagetkan.

“Eh…, Enggak kok”, ucap Ikal

“Terus lomba memasaknya dimana?”, tanya Ikal menutupi lamunannya.

“Di alun-alun dekat toko bangunan itu, loh…” jawab Silva.

“Oh…. iya”, kata Ikal mengerti lokasinya

“Ya sudah, aku pamit dulu ya, itu saja yang ingin kuberi tahukan, assalammualaikum!” salam Silva sambil beranjak pergi.

“Waalaikumsalam”, ujar Ikal.

Cerita Mela_Ikal, Ratih dan Putri dalam Bis khusus

Ikal, Ratih dan Putri dalam Bis khusus

Baca lebih lanjut

Foto-foto Kegiatan Latgab TNI di Bima

Tentara Nasional Indonesia (TNI) mengadakan latihan gabungan ketiga unsur angkatan di Bima. Latihan Gabungan ini berlangsung  Tgl 13-18 Mei 2013. berikut beberapa foto dalam rangka Latgab tersebut.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.