Pergi ke Bali

Bulan Maret ini saya berkesempatan mengunjungi Pulau Dewata, Pulau Bali. Meski urusan dinas, tetap saja saya senang berkunjung ke daerah seribu pura ini. Meski dengan berat hati saya harus meninggalkan Mela, Firraz. Lebih berat lagi mendengar tangisan Firraz yang ingin ikut. “Bilangnya Baba Naja tuh, Firraz boleh ikut”, katanya menirukan ucapan Naja adikku yang kebetulan bertugas di Bali via HP. Yah, akhirnya pesawat merpati yang membawaku mendarat dengan mulus di Ngurah Rai tepat pukul 12.15 wita. Dari Bandara, hanya butuh waktu sekitar 15-20 menit untuk sampai di hotel. Sebuah hotel di jalan Legian Kuta bali.

White Rose

White Rose

Ketika saya tau lokasi hotel tempat acara dan menginap Legian, maka bayangan saya adalah tragedi bom beberapa tahun yang lalu.

Bom Bali

Bom Bali

Dan….. Saya tidak menyangka kalau monumen peringatan tragedi kemanusiaan itu berada tepat di depan gerbang masuk hotel tempat saya menginap. Setelah cukup istirahat, sore saya dan teman-teman jalan-jalan ke lokasi monumen itu. Banyak orang lain atau turis asing atau juga orang-orang seperti saya yang ikut mengabadikan diri didepan monumen tersebut. Setelah puas memotret dan mengambil gambar video di monumen tragedi kemanusiaan itu saya dan teman-teman selanjutnya menyusuri jalan legian. Beberapa teman saya yang belum makan siang sempat mencoba makan nasi + sate ayam yang satu porsinya Rp.20.000,- atau es buah seharga Rp.10.000,- . setelah memiliki cukup energi kami terus menusuri jalan legian. Kiri kanan jalan dipenuhi oleh berbagai macam benda seni dan lain-lain untuk cendera mata. Disepanjang jalan trotoar itu juga kami berpapasan dengan banyak turis asing. Ada yang sendiri, ada yang berdua, bertiga atau lima, enam orang. Ada yang bersama anaknya, temannya atau komplit dengan keluarganya. Ada juga yang sedang bertransaksi di gerai-gerai sepanjang legian itu. Dari pengamatan dan mendengar bahasa mereka kayaknya berasal dari Eropa seperti Perancis, Jerman. Juga ciri khas turis dari benua kuning seperti Jepang dan Korea juga ada. Kami lalu belok kanan di jalan yang hanya satu jalur itu. Semakin jauh kami berjalan, semakin ramai. Turis lokal maupun asing makin banyak. Kendaraan juga berjalan perlahan kalau tidak dikatakan macet.

Kuta Bali

Kuta Bali

Ternyata…… Diujung jalan itu adalah gerbang. Ya gerbang ke Pantai Kuta. Pantai yang sudah teramat sering saya mendengarnya. Dipantai saya melihat orang yang begitu banyak disepanjang bibir pantainya. Sementara di ujung barat, langit berwarna merah. Matahari seolah malu menampakkan diri dihadapan ribuan mata yang menatapnya. Seperti saya, Ribuan orang-orang itu juga mungkin berharap dapat menyaksikan matahari terbenam di batas cakrawala. Melihat sunset di pantai Kuta. Meski sunset tida bisa dinikmati, nampaknya pengunjung tetap terhibur. Tetap senang bisa berada di pinggir deburan ombak yang cukup besar sore itu di pantai Kuta. Kami puas dan senang berada disitu. Hingga senja berganti warna-warni lampu jalan dan lampu-lampu kendaraan yang saling merapat di sepanjang pantai Kuta. (White Rose, 22.30. 11/Mar/2009)

Kuta Bali

Kuta Bali

    • GOESTAF
    • Mei 25th, 2009

    SAYA TERKESAN PADA ANDA .TOLONG BERBAGI CERITA PADA SAYA INI NO TLPN SAYA ANDA BISA HUB SAYA PADA WAKTU TERTENTU 085329054511

    • Terima kasih pak udah berkunjung ke blog saya. Salam kenal !

  1. terima kasih pak…..cerita tentang 2012 dan bali bagus… pantai kuta bali itu emang indah pak…….saya yang orang bali aja gak pernah bosan untuk ke sana….salam kenal……..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: