Lampu Merah

Suatu hari dengan sepeda motor shogun 125 saya berangkat kerja. Seperti biasa helm biru menempel dikepala saya. Kaca penutup dibagian depan saya turunkan. Artinya muka saya tidak kelihatan. Disebuah jalan, dari jauh saya melihat traffic light berwarna hijau. Saya pun ngebut. Supaya masih bisa lolos dari lampu merah. Naas bagi saya, menjelang perempatan tersebut lampunya berubah kuning lalu merah. Sementara saya sudah terlanjur tancap gas. Menerobos lampu merah. Dan….

shogun-125_melashogun-125_mela

Ditengah-tengah jalan perempatan itu, saya terpaksa mengerem dengan sekuat tenaga motor saya. Karena kendaraan yang berasal dari jalan sebelah kiri sudah bergerak untuk melintas. Biasalah, yang pertama atau didepan adalah sepeda motor. Salah satunya motor tiger 2000. Motor inilah yang paling dekat dan hampir menabrak saya. Karena merasa berhak (lampu hijau) motor ini siap melaju kencang. Pasa saat lewat itu saya sempat lihat motornya. (didaerah saya, plat motor biasanya diberi label macam-macam, misalnya nama). Saya mengenal motor yang lewat itu adalah milik teman karib saya. Tapi saya tidak bisa memastikan apakah itu benar teman karib saya tersebut.
Setelah lewat lampu merah saya berhenti. Ambil HP, utak atik sebentar-send. Terkirimlah SMS ke nomor teman tersebut. ”Lenga (kawan, red), sombong ya, gak kune kenal kita, mau tabrak orang tuh barusan di lampu merah”, begitu bunyi SMS nya. Sebentar kemudian balasan datang : Eh, iya. Saya jengkel sama orang itu. Saya tadi mau tabrak dia, kamu dimana? Begitu bunyi SMS nya.
Tau sendiri jawaban saya. Beberapa kali saling tukar SMS. Intinya gak nyangka kalau seperti itu kejadiannya. Ketika sorenya dia telpon dia masih bercerita bagaimana jengkelnya dia dan mau nabrak saya yang langgar lampu merah. Saat itu diperjalanan saya terkadang membayangkan yang gak-gak. Misalnya terjadi kecelakaan. Dia bangun dari motornya sementara sayapun belum buka helm. Dia mencengkeram baju saya sambil menghardik. Setelah itu baru saya buka helm. Seperti apa endingnya kalau sampai hal itu terjadi.
Tak terasa lamunan saya sampai di traffic light berikutnya. Dan saya harus patuh. Berhenti dilampu merah itu. Lebih kurang 10 detik lagi lampu merah akan segera berganti hijau. Sebuah motor samping saya yang dengan orang diatasnya berseragam keki (pegawai), dengan bangga mengajak kita untuk lewat saja. ”Ayo dah lewat, lampu merahnya macet”, ujarnya sambil tancap gas motor dengan gaya. Saya ya tersenyum. Pegawai kok tidak disiplin gitu. Karena mereka berdua memakai helm penutup wajah saya tidak tau wajah mereka. Tapi saya penasaran. Jangan-jangan teman saya. ”kok ngajak saya”, seperti itu pikiran saya.
Setelah lampu merah berganti hijau saya mencoba mengejar dua pegawai tadi. Eh gak disangka, sekitar 1 km dari lampu tadi saya berhasil menemui mereka. Mereka berhenti. Setelah saya perhatikan, ternyata ban belakang motornya bocor.
”Makanya jangan langgar lampu merah” ujar saya berlalu.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: