Akhirnya Ayah Tertawa Juga……..

 

Akhirnya Ayah tertawa juga

 

Hari itu malam makin larut….seperti hari-hari sebelumnya aku selalu menyelesaikan pekerjaan kantor di rumah. Malah menurutku 80 % kerjaan kantor kuselesaikan di rumah. Itu menjadikan hari-hariku lebih banyak terlihat di meja kerja (di rumah). Intinya lebih banyak berkutat dengan laptopku. Sehingga untuk nonton TV sudah sangat jarang. Bukan tidak mau tapi tidak sempat. Itu sejak lebih kurang dua tahun terakhir ini. Itu sejak aku pindah bagian ini.

Kebetulan anak-anak yang ikut tinggal di rumag ini sedang mudik lebaran, maka kamar kerjaku aku ganti di ruang TV. Sambil kerja sambil nonton TV. Termasuk malam itu. Satu persatu Firraz dan ibunya masuk kamar. Tinggal Mela masih asyik dengan acara lawak di TV. Kasin dia duduk sendiri aku maju dan duduk nonton disampingnya…..sampai pada sebua episode yang membuat aku ikut tertawa. ‘Wah, akhirnya ayah tertawa juga……’, seru Mela.

Setelah kejadian itu aku jadi berpikir, apakah aku memang selama ini kurang tertawa dan bercanda dengan mereka ini? Yang kutau memang kalau mereka (Melafirraz dan ibunya) nonton TV, mereka terkekeh-kekeh, bagiku biasa saja. Gak lucu….

Esoknya aku tanyakan dengan ‘hati’; Mela_Firraz, kalian mau ayah setiap hari seperti apa? Mengingat aku adalah orang rumahan (kerjanya lebih banyak di rumah) maka tiap hari meski sebentar selalu ada waktu buat bermain dengan melafirraz. Aku merasa sudah lumayan sebagai seorang Ayah. Jawaban Melafirraz bahwa mereka ingin ayahnya menemani mereka bermain kuda-kudaan, digendong, punggungku jadi tempat seluncuran mereka dan lain-lain telah menyadarkan aku  bahwa intraksi dengan mereka masih juga kurang. Itu pada aku ayah rumahan. Lalu bagaimana dengan ayah-ayah lain yang lebih banyak diluar rumah?

Aku jadi teringat sebuah buku yang berjudul ‘Ayah, Cium Aku Sekali Saja’.  Ternyata….

Para ayah seringkali mengatasnamakan ‘demi kebahagia-an keluarga’. la bekerja teramat sangat keras. Mungkin kalau boleh meminta, ia akan memohon kepada Allah agar menambah jam tidak hanya berjumlah 24, tetapi ia menginginkan sehari bisa 36 jam, 48 jam, atau bahkan 60 jam. Sehari-hari yang diurusinya hanya pekerjaan, pekerjaan, dan pekerjaan. Yang diinginkan hanyalah semakin ia keras bekerja, semakin banyak uang yang akan didapatkannya. Hari demi hari terus berganti. Waktu tidak bisa bertahan barang sedetik pun.

Kesuksesan tidak dapat diraih dalam sekejap. Jika bertahun-tahun telah bergulat dengan kesibukan yang melalaikan keluarganya. Ketika kesuksesan benar-benar diraih dan ketika si ayah akan ‘berbalik’ ke keluarganya untuk menyampaikan ‘kabar gembira kesuksesannya’, maka keluarga yang telah ditinggalkannya telah merasakan ‘asing satu dengan yang lain’. Ayah yang hendak ‘kembali’ pun akan tertolak. Terlambat, anak dan istri telah berjalan sendiri-sendiri tahun demi tahun. Begitu banyak ayah yang kehilangan keluarganya setelah lama bergelut merintis kesuksesannya. Apalah artinya rumah mewah, mobil berderet, dan uang setumpuk, apabila hati dilanda kegersangan. Para ayah yang sudah tidak mengenali lagi anak serta istrinya. Apakah ini yang kita harapkan? Sebenarnya, untuk apa para ayah bekerja?

Para ayah seringkali menomorduakan anak dan memposisikan pekerjaan sebagai prioritas utama. Di benak ayah, tugasnya adalah hanya mencari uang. Jika hal ini telah dilaksanakan, maka tidak ada hak bagi anak untuk meminta perhatian lebih darinya. Di lain pihak, anak tetaplah anak. la masih membutuhkan kasih sayang dan perhatian ayahnya. Untuk meminta selintas perhatian, biasanya anak akan berulah, entah itu mengundang simpati atau malah sebaliknya, mengundang caci-maki.

Anak dengan keterbatasan kemampuannya, seringkali selalu  ‘kalah’ bersaing untuk sekadar berebut perhatian ayahnya.Tiba-tiba aku jadi merasa bosan dengan pekerjaan ini, tapi…..bukan. Bukan pekerjaannya yang bermasalah kita sendiri sebagai Ayah yang harus memanage diri kita. Kapan waktunya bekerja dan kapan waktunya untuk keluarga (anak dan istri).

Wajar dan sangat wajarlah kalau Melafirraz ingin lebih banyak bermain dengan Ayahnya

 

ayahmelafirraz

 

Sebab dunia anak-anak adalah dunia bermain. Anak akan belajar kehidupan dengan cara bermain. Dengan permainan beraneka macam, anak akan belajar berbagai hal. Dan jika anak sering dibiarkan bereksplorasi/ bermain, maka kreativitasnya akan berkembang. karena itu, unagkapan hati anakku yang ingin lebih banyak waktu ayahnya untuk bermain adalah hal yang wajar dan positif. Sebagai ayah perlu menyiapkan waktu rutin untuk menerima bahkan mengajak anak-anak untuk bermain, sehingga anak akan merasa senang. Dalam kondisi senang ini, aku percaya bahwa anak akan lebih siap menerima berbagai ilmu tentang nilai-nilai kehidupan. Kondisi jiwa anak yang selalu senang jika diajak bermain akan membuat anak ‘melekatkan diri’ dan menaruh kepercayaan kepada orang yang memberinya kesenangan/kebahagiaan. Dengan ‘modal’ kepercayaan inilah, orang tua dengan mudah mengarahkan langkah anak.

Banyak efek positif yang timbul akibat keterlibatan Ayah. Baik dalam pengasuhan maupun dalam bersendagurau. Kebiasaan tersenyum dan keceriaan tentu akan membawa efek positif bagi perkembangan jiwa anak di masa depan. Pun demikian dengan canda dan tawa. Efek keceriaan ini akan memberikan aura positif bagi keseharian anak.

Semoga aku termasuk Ayah yang baik bagi Melafirraz……

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: