Ayah…..Firraz Mau Ikut……

 

Ayah_Firraz

 

Firraz, itu nama anak kedua kami. Laki-laki. Entah, sepertinya banyak sekali ‘cerita’ tentang dia ini. Ulah dan gayanya tiap hari. Ada….ada saja. Yang jelas Firraz jauh lebih banyak memancing emosiku (juga ibunya). Sampai akhirnya Firraz berujar ‘senang ya ayah pergi. Gak ada yang marahin’.  Itu diucapkan sesaat setelah aku pergi (keluar kota) yang dalam beberapa tahun terakhir lumayan sering. Ya tetep sedih mendengar itu. Lalu secara bertahap aku mencoba lebih memperbaiki diri. Sampai akhirnya ketika aku harus pergi lagi (ke Yogya_Kuliah). Hmmm….. sungguh terharu. Sejak aku memberitahukannya beberapa hari sebelum hari keberangkatan dia sudah bilang ; ‘Ayah…..Firraz mau ikut….’. Di hari keberangkatanku seharian tidak mau lepas dari gendonganku. Tertidur bahkan dalam tidurnya dia mengigau ‘ayah….firraz mau ikut’. Ya ampuuuun….. jelas berat sekali aku meninggalkannya. Bahkan hari itu firraz baru tidur jam 2 dini hari. Resah kata ibunya.

Maka selama di Yogya, aku harus sempatkan tiap hari untuk meneleponnya bahkan sekali-sekali membacakan cerita sebelum mereka tidur.

Perubahan sikap Firraz dan apa makna dibalik semua itu benar-benar kurenungi.

 

Firraz.....Buka apa tuh....?

 

Sebagai Ayah, aku  adalah pemimpin pada komunitas terkecil, yaitu keluarga. Tidak ada alasan karena sibuk bekerja, sehingga tidak ada waktu untuk keluarga. Dalam hidup ini terdiri dari berbagai pilihan beserta konsekuensi yang menyertainya. Jika sekarang aku, sebagai orang tua ‘menomorduakan’ anak yang benar-benar membutuhkan kehadiran ku, apa aku (orangtua) siap ketika kita membutuhkan kehadiran mereka di waktu usia senja kita, dan mereka justru ‘mengutamakan’ kerja seperti apa yang sekarang aku lakukan? Padahal kita akan selalu menuai apa yang kita tanam. Tabur benih padi akan menuai padi; tabur benih jagung akan menuai jagung.

Sudah saatnya kita mengubah cara kita bersikap terhadap anak. Kita perlu belajar bersikap lebih positif dan lebih bersahabat dengan anak-anak kita. Semoga dengan itu, ikatan emosi antara kita dan anak-anak terjalin lebih erat, sehingga memudahkan kita mendidik mereka ke jalan yang penuh barakah.

Agar kita bisa lebih akrab dengan anak-anak, tidak bisa tidak kita harus secara sengaja meluangkan waktu buat mereka. Bersama-sama melakukan kegiatan bersama mereka hanya akan bermakna jika anak-anak merasakan perhatian dan cinta kita.

Jadi, apapun ekspresi yang pernah Firraz tunjukan itu adalah ekpresi murni seorang anak terhadap ayah (orangtua) nya. Artinya mau jadi apapun anak kita sangat tergantung dari pendekatan yang kita lakukan sejak awal.

Mudahan aku dapat menjadi Ayah (orang tua) yang baik bagi Firraz (dan juga Mela tentunya).

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: