Sepak Bola Perkecil Risiko Depresi

Indonesia sedang demam Piala AFF. Pagelaran turnamen yang dahulunya bernama Piala Tiger ini tahun terasa lain. Euforia dan animo masyarakat Indonesia begitu luar biasa mendukung Timnas Indonesia bertanding. Bukan saja karena faktor dua pemain naturalisasi; Irfan dan Gonzales yang jadi magnetnya. Penampilan ciamik punggawa Timnas juga memantik kecintaan publik terhadap sepakbola. Khususnya Timnas. Sebut saja penyanyi Syahrini yang tiba-tiba suka bola semenjak Piala AFF ini di gelar, atau para pejabat yang tiba-tiba mendukung total Timnas. Semuanya berbau bola. Berbau sepak bola.

Timnas Indonesia_AFF 2010

Ya, olah raga terpopuler di dunia ini tidak hanya melahirkan kebanggaan dan rasa nasionalisme namun bernagai penelitian membuktikan kalau sepakbola juga memberikan manfaat bagi seseorang yang tidak sekedar manfaat olah raga.

Seperti dikutip healthkompas, sepakbola ternyata dapat memperkecil resiko depresi.

Sepak bola dan depresi

Jika berbicara depresi, maka laki-laki adalah kelompok yang paling enggan datang ke psikolog untuk mengakui dirinya mengalami gangguan psikis. Fakta ini disampaikan oleh Siobhain McArdle dari Dublin City University pada konferensi tahunan British Psychological Society’s Division of Clinical Psychology, Desember lalu di Inggris.

McArdle dan timnya mengamati 104 laki-laki yang berumur 18-40 tahun. Para laki-laki itu kemudian dibagi menjadi tiga kelompok. Pertama, kelompok yang melakukan olahraga individual. Kedua, mereka yang melakukan olahraga kelompok yang kemudian dilengkapi dengan cognitive behavioral based therapy (CBT) atau terapi perilaku kognitif. Adapun kelompok ketiga tidak melakukan apa pun.

Khusus untuk kelompok kedua, olahraga yang dipilih adalah sepak bola, menggunakan Back of The Net, simulasi permainan sepak bola yang strateginya kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Strategi yang dimaksud adalah pemecahan masalah, komunikasi, dan penentuan target atau goal setting.

Ketiga kelompok diamati sebelum, selama, dan setelah olahraga dilakukan dalam 8 minggu penelitian. Kelompok yang menunjukkan penurunan gejala depresi adalah mereka yang melakukan simulasi Back of The Net. “Semangat kebersamaan untuk memecahkan masalah yang diadopsi dari aktivitas fisik ternyata mampu memberikan gambaran pada anak-anak muda untuk keluar dari masalah dengan cara sehat,” ucap McArdle.

Tidak puas sampai di situ, McArdle dan timnya kemudian melakukan penelitian lebih dalam. Hal yang sedang berlangsung ini dilakukan untuk melihat bagaimana seharusnya aktivitas yang berbasis komunitas dibuat agar benar-benar bermanfaat bagi pembentukan karakter mereka. Jika pola intervensinya sudah ditemukan, McArdle menyakini, cara ini lebih mudah ketimbang memaksa anak laki-laki yang mengalami depresi untuk mengunjungi pusat rehabilitasi emosi. “Ini bisa jadi cara alternatif yang efektif untuk membentuk karakter yang matang bagi mereka.”

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: