Arsip untuk Maret 9th, 2012

Badai Bawah Air Menyeramkan di Bumi

NASA baru saja mengungkap gambar dari satelitnya menampilkan ‘badai’ raksasa di bawah air. Putaran massa air selebar 150km ini muncul di pesisir Afrika Selatan.

Bumi_Badai bawah airBadai raksasa ini terjadi pada 26 Desember 2011, dan satelit Terra milik NASA berhasil menemukannya. Kejadian ini tak perlu dikhawatirkan karena hanya ikan yang akan merasakan dampaknya, karena ikan-ikan ini akan terus berputar tanpa henti.

Badai laut yang lebih dikenal dengan Eddy ini biasa terjadi di bawah permukaan laut. Eddy yang berputar melawan arah jam ini muncul dari Agulhas Current yang mengalir di pesisir selatan Afrika dan di sekitar ujung Afrika Selatan.

Agulhas Eddy yang juga dikenal dengan ‘cincin arus’ ini merupakan badai terbesar di dunia yang membawa air asin hangat dari Samudera Hindia ke Atlantik Selatan. Demikian seperti dikutip inilah.com.

Penyebab Libido Rendah

foto: Kompas by shtterstockRelasi yang hangat di kamar tidur diyakini menjadi salah satu resep kelanggengan rumah tangga. Tetapi gairah seks tak selamanya membara, terkadang redup, bahkan bisa mati. Ada banyak penyebab berkurangnya libido mulai dari faktor psikologi, emosional, dan gaya hidup. Dikutip dari kompas, ada 12 faktor yang mempengaruhi libido seseorang.

1. Stres

Tubuh merespon stres dengan cara mengeluarkan adrenalin dan kortisol. Stres yang sudah berlangsung lama bisa memengaruhi kadar hormon tubuh dan berdampak pada berkurangnya gairah. Stres juga menimbulkan respon menyempit pada pembuluh darah sehingga memicu gangguan ereksi.

2. Depresi

Libido dan depresi memiliki hubungan yang rumit. Depresi bisa mengubah kemampuan biochemistry tubuh dan mengurangi libido. “Selain itu cukup sulit untuk merasa bergairah saat kita sedang depresi,” kata Mark L.Held, psikolog klinis. Beberapa obat untuk depresi juga memiliki efek samping mengurangi libido. Baca lebih lanjut

Flu Burung; Gejala, Cara penularan, Pencegahan dan Pengobatannya

Virus H5N1

Awas flu burung....Virus jenis H5N1 dikenal sebagai virus flu burung yang paling membahayakan yang telah menginfeksi baik manusia ataupun hewan. Virus yang juga dikenal dengan A (H5N1) ini merupakan virus epizootic (penyebab epidemik di mahluk non manusia) dan juga panzootic (yang dapat menginfeksi binatang dari berbagai spesies dari area yang sangat luas.

Virus HPAI A (H5N1) pertama kali diketahui membunuh sekawanan ayam di Skotlandia pada tahun 1959, namun virus yang muncul pada saat itu sangat berbeda dengan virus H5N1 pada saat ini. Jenis dominan dari virus H5N1 yang muncul pada tahun 2004 berevolusi dari virus yang muncul pada tahun 2002 yang menciptakan gen tipe Z.

Virus H5N1 dibagi menjadi 2 jenis turunan, turunan yang pertama adalah virus yang menginfeksi manusia dan burung yang ada di Vietnam, Thailand, Kamboja dan burung yang ada di Laos dan Malaysia. Jenis turunan pertama ini tidak menyebar ke daerah lain. Baca lebih lanjut

Antisipasi Flu Burung, RSUD Bima Kerahkan seluruh ‘Kekuatan’

Kit Flu Burung milik RSUD BimaMengantisipasi merebaknya flu burung di Bima, RSUD Bima sebagai salah satu RS rujukan Flu Burung, telah melakukan langkah-langkah antisipatif. Ketika pasien dugaan flu burung datang pertama kali, maka disamping petugas yang sudah ada, juga mengerahkan petugas tambahan. Nurma Mayasari, S.Kep. Ns, salah seorang supervisor keperawatan di RSUD Bima Selasa malam (6/3/12) menjelaskan kalau pihaknya telah menyiapkan berbagai skenario jika pasien bertambah. “Jika pasien bertambah, untuk sementara kita siapkan ruangan tersendiri di kelas II belakang VIP B”, ujarnya saat itu. Nurma juga merinci, apa yang harus dilakukan oleh petugas (perawat), agar prinsip kehati-hatian tetap dikedepankan. Sayangnya saat itu belum semua petugas dilengkapi pakaian khusus penangangan pasien flu burung. Esoknya (Rabu, 6/3/12), Jajaran manajemen, komite medik, komite keperawatan dan unsur terkait melakukan pembahasan lebih rinci penangangan flu burung.

Semua perlengkapan penanganan flu burung juga dikeluarkan, sayangnya, sebanyak 200 obat Tamiflu yang tersedia telah expirate date. Sehingga RSUD Bima melakukan koordinasi dengan Dikes Kabupaten Bima. Informasi terakhir, mengingat keterbatasan ruangan yang ada, pasien yang diduga flu burung ini akan di rawat di RS Persiapan Kabupaten Bima di Sondosia Bolo.

Satu hal dilematis yang diperlihatkan  petugas RSUD Bima, dengan segala keterbatasan peralatan pelindung diri, resiko yang diterima, dokter dan terutama perawat tetap merawat dan melayani pasien dengan baik.

Flu Burung merebak, Warga Bima Resah

Flu Burung, Kini Merebak di BimaKasus Flu Burung tiba-tiba menyeruak dan menjadi pembicaraan hangat masyarakat Bima. Adanya beberapa unggas (ayam) yang mati mendadak menjadi awal kecurigaan itu. Bersamaan dengan itu, beberapa pasien (anak-anak), dirujuk ke RSUD Bima dengan dugaan menderita flu burung. Pemberitaan media televisi tentang Penyebaran virus flu burung di Bima, Nusa Tenggara Barat, makin meluas. Setidaknya 13 kecamatan dipastikan telah terinfeksi. Sebanyak, 10 kecamatan yakni di Kabupaten Bima, seperti Kecamatan Soromandi, Madapangga, Bolo, Woha, Belo, Donggo, Wawo, Sape, Langgudu dan Ambalawi. Sementara tiga kecamatan lain berada di Kota Bima yakni Kecamatan Rasanae Barat, Rasanae Timur, dan Kecamatan Asakota.

dikutip dari liputan 6, Selasa (6/3), ribuan unggas mati kebanyakan ditemukan di kolong rumah adat warga. Sejumlah ayam yang berkeliaran di permukiman banyak yang terlihat sakit. Mewabahnya virus flu burung ini berawal pada pertengahan Januari 2012 di wilayah Soromandi. Warga melaporkan matinya ratusan unggas setelah datangnya pasokan ayam dari Jawa. Tapi pada awal Maret ini penyebaran virus berbahaya sudah mencapai 10 kecamatan dari 18 kecamatan di Kabupaten Bima.

Sehari sebelumnya warga melaporkan adanya kematian 100 ekor ayam lebih sehingga total ayam mati mendadak di Desa Jia hampir 1.200 ekor,” tutur Kepala Bidang Kesehatan Hewan Disnak Kabupaten Bima Syaifudin. Untuk mengantisipasi semakin mewabahnya virus mematikan itu, pemerintah setempat menempelkan kertas imbauan di sejumlah lokasi. Sementara itu, antara melaporkan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat bekerja sama dengan pihak terkait lainnya, memusnahkan sedikitnya 4.500 ekor ayam peliharaan di 10 kecamatan di Kabupaten Bima, terkait mewabahnya virus flu burung atau Avian Influenza. Baca lebih lanjut