Teknologi LTE dan Prospeknya

LTE 4GLTE atau Long Term Evolution adalah standar untuk teknologi komunikasi data nirkabel dan merupakan lanjutan dari teknologi GSM/UMTS standar. Tujuan dari LTE adalah untuk meningkatkan kapasitas dan kecepatan jaringan data nirkabel menggunakan teknik DSP (Digital Signal Processing) dan modulasi yang dikembangkan pada awal milenium baru. Sistem antarmuka nirkabel tidak kompatibel dengan jaringan 2G dan 3G sehingga harus diopeasikan pada spektrum nirkabel yang terpisah.

Seperti dikutip teknokers, sebagai teknologi tingkat tinggi, LTE mampu mendownload sampai dengan kecepatan hingga 300 Mbps dan upload 75 Mbps. LTE mendukung operator bandwidth terukur, serta mendukung pembagian frekuensi duplexing (FDD) dan waktu-divisi dupleks (TDD). Arsitektur jaringan LTE merupakan arsitektur jaringan berbasis IP datar uang disebut Evolved Packet Core (EPC), yang dirancang untuk menggantikan Core Network GPRS dan mendukung pertukaran yang mulus untuk suara maupun data dibandingkan dengan teknologi jaringan yang lebih dulu ada seperti GSM, UMTS dan CDNA 2000.

Beberapa kelebihan yang dimiliki LTE antaralain:

1. Tingkat download sampai dengan 299.6 Mbis/s dan tingkat upload gingga 75.5 Mbis/s tergantung pada katrgori perangkat yang digunakan.
2. Peningkatan dukungan untuk mobilitas, sebagai contoh dukungan untuk terminal bergerak hingga 350km/jam atau 500 km/jam tergantung pita frekuensi
3. Dukungan untuk semua gelombang frekuensi yang saat ini digunakan oleh sistem IMT dan ITU-R
4. Di daerah kota dan perkotaan, frekuensi band yang lebih tinggi (seperti 2.6 GHz di Uni Eropa) digunakan untuk mendukung kecepatan tinggi mobile broadband.
5. Dukungan untuk MBSFN (Multicast Broadcast Single Frequency Network). Fitur ini dapat memberikan layanan seperti Mobile TV menggunakan infrastruktur LTE, dan merupakan pesaing untuk layanan DVB-H berbasis siaran TV.

Prospek Pertumbuhannya

Teknologi jaringan Long Term Evolution atau LTE diklaim sebagai jaringan nirkabel dengan pertumbuhan tercepat.  Seperti dikutip kompastekno, hal tersebut dikarenakan  LTE mendapat banyak dukungan dari perusahaan penyedia alat dan solusi telekomunikasi, operator seluler, serta pembuat perangkat mobile.

Global mobile Suppliers Association (GSA) mendaulat LTE sebagai jaringan nirkabel dengan adopsi tercepat.

Hal senada juga diungkapkan lembaga riset Strategy Analytics, yang memprediksi ada 90 juta orang yang berlangganan LTE pada akhir tahun ini, dan 1 miliar orang pada 2017.

LTE diusulkan sebagai standar internasional oleh NTT DoCoMo dari Jepang pada 2004. Setelah melewati penelitian dan pengembangan oleh berbagai pihak, LTE pertama kali dikomersialkan untuk publik oleh operator seluler TeliaSonera di Stockholm dan Oslo pada 14 Desember 2009.

Setelah itu, beberapa negara maju memutuskan akan mengadopsi LTE.

Strategic Marketing Manager Ericsson, Warren Chaisatien mengatakan, operator seluler Telstra dari Australia mendeklarasikan diri akan menyelenggarakan LTE pada Maret 2010. Lalu pada September 2010, Telstra mulai mengkomersialkan LTE di Australia.

“Penyelenggaraan LTE di Australia tak hanya menguntungkan bagi industri telekomunikasi, tapi juga seluruh industri yang butuh akses internet super cepat,” kata Warren yang berkantor di Australia.

Menurut data GSA yang dirilis September 2012, saat ini ada 96 operator seluler di 46 negara yang telah menawarkan jaringan LTE secara komersil. Di Asia Pasifik, ada 7 negara yang telah menyelenggarakan LTE, yakni Jepang, Korea Selatan, Hong Kong, Singapura, Australia, Filipina, dan India.

Kemudian, 347 operator seluler di 104 negara telah berkomitmen dan mulai melakukan investasi untuk infrastruktur LTE. Investasi ini bisa berupa uji coba atau penelitian dan pengembangan teknologi LTE.

Di Indonesia, 3 operator seluler (Telkomsel, Indosat dan XL Axiata) telah melakukan uji coba LTE.

Kebutuhan menyelenggarakan jaringan LTE juga disebabkan oleh meningkatnya penetrasi penggunaan smartphone dan tablet, yang makin sering dipakai untuk mengunduh aplikasi dan konten. Sehingga, operator seluler merasa perlu menambah kapasitas dan kecepatan akses data.

Di Singapura misalnya, penetrasi penggunaan smartphone mencapai 150% lebih. Sedangkan menurut data Ericsson ConsumerLab yang baru-baru ini dirilis, Singapura menempati posisi pertama dalam hal kepemilikan smartphone (penetrasi 74%) dan posisi kedua pada kepemilikan tablet (31% penetrasi) secara global.

Chaisatien mengatakan, pertumbuhan adopsi LTE lebih cepat 2 sampai 3 tahun dibandingkan 3G.

Dukungan lain terhadap LTE juga datang dari produsen smartphone dan tablet, yang mulai membuat produk dengan dukungan LTE. Hingga kini tercatat ada belasan smartphone yang mendukung LTE, termasuk iPhone 5 besutan Apple.

Namun, hampir semua perangkat yang mendukung LTE itu dibanderol dengan harga mahal, dan belum sepenuhnya mendukung jaringan LTE di seluruh frekuensi.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: