Ke Baduy

selamat datang di baduySalah satu kegiatan PK adalah berkunjung ke Suku Baduy. Kamis sekitar jam 9 kami mulai berangkat dari Wisma Makara UI. Perjalanan ke Baduy diperkirakan butuh waktu 7-8 jam. Ada 4 Bis yang membawa rombongan kami. Dua bis besar, 1 bis ¾ dan 1 bis kecil plus ambulance dengan tenaga medisnya. Sekitar 2,5 jam perjalanan kami istirahat sejenak di rest area. Tiga puluh menit kemudian kami meluncur kembali. Masuk Banten khususnya Kabupaten/Kota Serang lancar. Namun di Pandegelang perjalanan kami mulai ditemani hujan. Pas jam 12 kami masuk perbatasan Kabupaten Lebak. Hujan masih mengguyur.

Beberapa waktu kemudian terasa kalau hjalanan mulai naik turun, jalannya rusak. Apalagi dikiri kanan jalan ada bebera[a penambangan pasir. Lainnya nampak pemandangan sawah hijau yang indah. Selanjutnya jalan berbelok, naik turun bahkansangat sempit. Sempat salah satu bis kami tidak bisa meneruskan tanjakan dan itu membuat kami penumpangnya baik yang berada di bis belakang maupun dalam bis ke-tiga (yang tidak kuat naik itu) sontak berhamburan turun. Mencari batu dan lainnya untuk menahan agar bis tidak meluncur turun…jatuh. alhamdulillah selamat.

Setelah sholat di sekitar terminal, kami mulai menuju Baduy. Sebelumnya kami dikumpulkan di halaman kantor kepala desa kanekes untuk menerima penjelasan. Tidak boleh buang sampah sembarangan, tidak boleh membawa alat musik seperti gitar termasuk angklung, tidak boleh membawa radio apalagi tv, tidak boleh membunuh binatang kecuali mebahayakan diri, dan lain-lain banyak lagi.

Masing-masing kelompok dilepas bertahap. Dijalan menjadi bercampur karena banyak yang tersengal-sengal dan pucat karena keletihan. Jalan menanjak dan terbawa irama sebagian peserta yang begitu antusias menjadi penyebabnya. Syukurnya kami semua berhasil sampai di Baduy sekitar jam 17.00 wib. Waktu yang tersisa kami manfaatkan untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut dari panitia. Juga pertemuan terbatas dengan anggota kelompok.

Kami dibagi sekitar 7 orang tiap rumah. Rumah suku baduy saling berhadapan. Tanpa pagar pembatas. Jalanan menanjak menuju rumah warga dilapisi dengan susunan batu-batu yang kuat dan rapi. Sesampai dirumah tentu saja kami langsung mencari kamar mandi untuk buang air kecil atau mandi. Tidak banyak kamar mandi tertutup disana. Karena sudah lewat maghrib atau malam, maka kami meluncur ke sungai. Jadilah sungai mirip kunang-kunang karena hanya senter yang menemani kami. Sebab tidak ada listrik di Baduy. Di rumah warga, ada yang tidur di dalam ada juga yang tidur di teras depan. alhamdulillah bisa tidur dengan nyenyak. Mungkin karena sangat capek.

Pagi hari, subuh-subuh kami sudah ke kali, nyebur atau mandi ala burung. Kelepak kelepek yang penting basah, sabun dan kena air bersih. Duingin…..

Kegiatan selanjutnya sesuai agenda kelompok masing-masing. Ada yang ke ladang, ke rumah warga, ke perbatasan baduy dalam dan juga ke kampung baduy sebrang. Aku sendiri dengan kelompok dibagi dua. Satu tim ke ladang, berniat melihat tata cara pengambilan aren atau kayu, tim lainnya mengamati arsitektur rumah suku baduy.

Disepanjang perjalanan, orang-orang baduy masih kental dengan pakaian adatnya termasuk untuk bekerja. Untuk wanita kebaya yang rata-rata warna ungu dan jarit/kain bawah warna biru dongker. Yang ke ladang/keluar kampung memakai caping besar. Anak-anak perempuan juga sudah mulai memakai pakaian adat itu sejak kecil. Anak-anak laki aku melihatnya lebih bebas. Baju-baju pemain bola sering mereka pakai. Sedangkan gadis-gadis baduy, mereka sejak pagi berdandan dan duduk menenun di teras rumahnya. Rata-rata mereka memakai kalung emas dilehernya. Tujuan mereka berdandan adalah adalah untuk menarik perhatian calon pemuda suku Baduy yang akan melamarnya. Anak-anak suku Baduy tidak ada yang sekolah.

Kami juga sempat melihat bagaimana mereka bekerjasama mengalirkan ribuan batang potongan kayu di sungai. Orang tua, anak, ibu-ibu dan anak gadis bahkan nenek-nenek ikut berpartisipasi. Siangnya kami berkesempatan berdialog dengan dua orang perwakilan suku baduy dalam yang karena sedang ada acara kawaluh maka Baduy dalam tidak bisa dikunjungi.

Malam hari kami berkumpul dan berdialog dengan para tetua kampung Baduy. Ditemani sepasang obor, kami disuguhi ubi, kacang dan lain-lain hasil alam mereka. Di langit, bintang bersinar sangat indah. Seolah hanya untuk suku Baduy.

Esok harinya kami pulang pagi-pagi sekitar jam 06.30 wib. Kami langsung berhadapan dengan tanjakan terjal sejauh 1 km. Perjalanan makin ‘menarik’, karena gerimis atau bahkan hujan ikut menyertai. Akibatnya beberapa teman kami sempat terpeleset. Syukurlah…akhirnya semua sampai ke terminal dan melanjutkan ‘petualangan’ baru ke Kompleks TNI AU Halim Perdana Kusuma.

    • Andri
    • Agustus 31st, 2015

    Wajahnya teduh-teduh ya… nyaman.

  1. Maret 20th, 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: