Begitulah Skenario Tuhan (1)

Bandara Internasional Lombok

Bandara Internasional Lombok

Kamis sore (13/11/14) aku berangkat dari Bandara Adi Sucipto dalam cuaca hujan. Pikirku hujan hanya disini, di bandara tujuan kemungkinan tidak ada hujan. Apalagi nanti sampainya di Lombok jam 20.00 wita (mbuh teori darimana kalau malam, kalau di bandara tujuanku tidak ada hujan). Pikirku, asal sudah take off, insyaAllah semua akan lancar. Dan Seingatku inilah pertama kalinya aku tidak mengalami delay dengan maskapai ini. Begitu pesawat take off aku langsung pejamkan mata, sempat terbayang “bagaimana yah rasanya pesawat yang di bajak hampir mendarat paksa lalu datang bintangnya meyelamatkan pesawat, lalu memmbawa pesawat naik (tajam) kembali”. Ada-ada saja. Lewat setengah jam, aku terbangun. Mungkin karena beberapa goncangan pesawat atau juga beberapa pengumuman dari awak kabin yang termasuk mnejajakan berbagai produk.

Dua puluh menit sebelum mendarat semua aktifitas itu berhenti. Bersiap untuk pendaratan… nun jauh di bawah terlihat lampu pemukiman yang hilang tinbul membuatku mrnarik kesimpulan kalau disini juga ada awan tebal….. pesawat juga nampak bersiap mendarat, mungkin rodanya sudah dikeluarkan. Tidak begitu jelas dengan berbagai guncangan…yang jelas pilot sudah bilang landing position. Yang jelas moncong pesawat terus menurun, lampu dan pemukiman penduduk makin jelas terlihat. Ah, benar-benar tepat waktu pikirku…. disaaat aku bersiap dengan goncangan saat roda pesawat pertama kali menyentuh landasan (biasanya megang sandaran lengan kursi). Tiba-tiba pesawat beralih posisi dan kecepatan : naik kembali dengan tajam, jika tadi moncong pesawat di bagian bawah sekarang brputar naik, menembus berbagai goncanga awan tebal. Wah…pesawatnya naik lagi, gak jadi mndarat. pikirku. Setelah di atas pilot mengumumkan kalau untuk keselamatan penerbangan harus menunggu heavyrain nya reda sehingga harus muter-muter terlebih dahulu sekitar 25 mnit. Pada akhirnya pesawat berhasil mendarat dengan sambutan genangan air di sana sini (baru hujan lebat). Penumpang pun serempak berujar Alhamdulillah….
Begitulah skenario Tuhan. Andai saja pesawstku delay setengah jam atau bahkan pernah sampai 4 jam yang kualami terjadi pada penerbangan hari ini, mungkin aku tidak akan mngalami gagal mendarat seperti hari ini. Begitulah skenario Tuhan. Tidak setiap kejadian yang tidak enak pada akhirnya juga tidak enak. Tuhan lebih tau yang terbaik. Tuhan yang punya skenario, yang tau menempatkan ending terbaik dari sebuah kisah. Seperti kisah Begitulah Skenario Tuhan (2) ini.

  1. November 18th, 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: