Cegah Pikun dengan Belajar Fotografi

gaya fotografer2Belajar fotografi memang harus diakui sebagai sesuatu hal yang sangat menyenangkan. Penguasaan tentang dasar-dasar konsep fotografi yang meliputi ISO  (ukuran sensitifisitas sensor kamera terhadap cahaya),  Aperture  (bukaan lensa saat foto diambil), dan  Shutter Speed (rentang waktu bukaan jendela di depan sensor kamera). Dengan “segitiga” fotografi ini, kita dapat menghasilkan foto yang sesuai keinginan kita. Foto-foto seperti yang kita lihat di koran dan majalah dapat juga kita hasilkan sendiri. Hal ini membuat kepuasan sendiri bagi fotografer apalagi bagi fotografer pemula.  Kepuasan ini tentu menyenangkan, membahagiakan.

Ternyata belajar fotografi tidak hanya memberikan kepuasan dan kesenangan, namun seperti dikutif dari situs jpnn.com bahwa belajar fotografi juga dapat mencegah kepikunan.

“Untuk orang-orang berusia lanjut atau di atas 60 tahun, mengisi TTS dan mendengarkan musik klasik dinilai sudah tidak cukup melindungi otak dari penurunan fungsi kognitif. Mempelajari hal-hal baru, seperti fotografi digital dan merajut lebih menantang dan menstimulasi otak.

Studi terhadap 200 orang berusia 60 tahun ke atas mengungkap bahwa otak cenderung lebih tajam bila mendapat latihan mental yang lebih panjang dan berkelanjutan. Aktivitas sederhana seperti mengisi TTS dan mendengarkan musik klasik dianggap kurang memenuhi kebutuhan tersebut.gaya fotografer_dibalik,

Dr. Denise Park dari Texas University di Dallas mengatakan, pada prinsipnya otak perlu mendapatkan pengalaman-pengalaman baru untuk bisa menjaga ketajaman fungsinya. Pengalaman baru tersebut harus yang tidak biasa, menantang dan memberikan stimulasi mental maupun sosial.

“Saat anda berada dalam zona nyaman, anda mungkin berada di luar zona peningkatan. Kita butuh, sebagai masyarakat, belajar bagaimana menjaga pikiran yang sehat seperti halnya menjaga kesehatan jantung melalui diet yang sehat dan olahraga,” kata Dr Park, seperti dilansir laman Telegraph.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Psychological Science ini membagi para responden menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama belajar fotografi, merajut, atau keduanya selama 115 jam/pekan. Kelompok berikutnya mengisi TTS, mendengarkan musik klasik, atau keduanya, sedangkan kelompok terakhir melakukan aktivitas sosial.

“Ternyata keterlibatan saja tidak cukup. Ketiga kelompok didorong untuk belajar dan menguasai lebih banyak tugas dan ketrampilan. Hanya kelompok yang dihadapkan pada tantangan mental berkelanjutan dan lama, yang mengalami perbaikan mental,” pungkas Dr Park”

sumber

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: