Kelas Inspirasi Yogya#3

“Berbagi Inspirasi Lewat Profesi”

Kelas Inspirasi. Ya, istilah untuk kegiatan sehari mengajar di Sekolah Dasar (SD) ini sudah berlangsung lebih tiga layli prihatiningtyastahun. Dari awalnya disuatu daerah di Kalimantan menjadi gerakan yang menasional diberbagai daerah di Indonesia. Kelas Inspirasi dilakukan oleh para relawan yang merupakan para profesional yang benar-benar rela dan tulus berbagi untuk membangun mimpi anak Indonesia, spirit dan wawasan lebih awal kepada para murid SD akan profesi yang bisa mereka pilih di masa depan. Karena, menurut  salah seorang relawan yang telah beberapa kali ikut kelas inspirasi, Ibu Laily Prihatiningtyas, Direktur PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko, yang juga hadir memberikan briefing Kelas Inspirasi Yogya#3 di Pendopo Taman Siswa Yogyakarta (1/3/15), bahwa anak-anak cenderung hanya memiliki cita-cita yang sederhana, menjadi apa yang saat itu mereka tau atau sedang menjadi trend. “Misal menjadi pemain bola, karena saat itu lagi ngetrend tentang sepak bola. Begitupun saat ditanya akan membuka usaha apa, ya usaha pabrik bola sepak, sepatu bola”, ujar Laily.  Menurut Laily, kelas inspirasi bukan hanya menginspirasi anak-anak, tapi kita sendiri sebagai pengajar akan terinsprasi oleh kegiatan ini. Bukan hanya mengajar tapi juga bukti nyata kepedulian para profesional anak pendidikan anak bangsa dan masa depan generasi bangsa. Menuju Indonesia Gemilang, Menuju Indonesia Emas, Menuju Indonesia sejahtera. Bagi seluruh rakyatnya. Dari Sabang sampai Merauke, dari kota hingga pelosok desa.

Bagi Anda hanya satu hari cuti bekerja, namun bagi murid-murid itu bisa menjadi hari yang menginspirasi mereka seumur hidup. Berbagi cerita, pengetahuan, dan pengalaman untuk menjadi cita-cita dan mimpi mereka.

“Bangun Mimpi Anak Indonesia”

Aku tau kelas inspirasi ini dari pesan gambar di grup whatsapp, aku mendaftar atas saran dan petunjuk salah seorang alumni Indonesia mengajar yang pernah bertugas di daerah pedalaman daerahku. (Hebat dia, masa muda nya setahun dihabiskan di pelosok daerahku, yang tentu saat itu pasti menghadapi banyak kendala bahkan untuk berkomunikasi dengan keluarganya. tapi dia rela dan tulus berbagi pengabdian disana. Terima kasih Mb Marlita). Sebenarnya aku sudah lupa apa yang kutulis dalam essay satu demi satu kenapa mau ikut kelas inspirasi dalam formulir pendaftaran online tersebut. Aku hanya berpikir, mungkin apa yang telah kulalui dapat memberi manfaat (inspirasi) buat anak-anak. Yang pasti, aku mau ikut memberikan inspirasi buat anak-anak yang mungkin seperti keadaanku dulu. Tumbuh dan besar bersama alam, hanya tau cita-cita menjadi guru, polisi dan pak camat. Saat itu, motivasi hanya dibangkitkan diri sendiri. Yang kuingat suatu saat aku berkata, aku akan jadi itu. Dua puluh tahun kemudian apa yang diucapkan itu menjadi kenyataan.

Aku ingin bercerita tentang kalau kita punya impian maka  kita akan punya kesempatan untuk mewujudkannya. Dengan cara apapun, Tuhan yang maha tahu, Tuhan yang memiliki skenario. Bagaimanapun alur ceritanya, pada akhirnya kita akan dapatkan apa yang pernah kita impikan, kita akan miliki apa yang kita inginkan dan kita akan jangkau apa yag pernah kita katakan. Tinggal kitanya mau atau mau banget mewujudkannya. Aku juga ingin berkata kepada mereka, punyailah cita-cita yang tinggi, punyailah keinginan yang bagus. Bangunlah impianmu sejak awal. Dalam hidupmu, katakanlah yang kamu sukai saja. Darimanapun kamu berasal, jika kamu punya impian,  menjadi apa saja, kamu akan punya kesempatan untuk mewujudkannya. Pun saya berdiri disini, karena saya pernah mengatakannya : Saya ingin suatu saat bisa berbagi cerita dengan anak-anak yang mungkin mengalami kehidupan seperti saya.

“Tidak dibayar, bukan karena tidak bernilai tapi karena tidak ternilai”

Dari deretan nama-nama yang lolos kelas inspirasi Yogya#3, kulihat mereka adalah orang-orang hebat, para profesional dibidangnya masng-masing. Mereka semua pasti mengorbankan satu hari berharganya untuk membangun inspirasi anak-anak bangsa. Mereka rela datang ikut briefing meninggalkan golden time nya dihari minggu, mereka rela menyebar ke berbagai sekolah yang ada di semua Kabupaten/Kota di DIY. Dari acara briefing ini juga, aku jadi tau kalau beberapa relawan telah ikut kegiatan ini bahkan lintas pulau (bukan hanya dalam satu Proponsi/Kota/Pulau). Semua dilakukan dengan sukarela, biaya sendiri, penuh ketulusan dan keikhlasan, semangat berbagi inspirasi, berguna bagi orang lain (anak-anak).  Untuk memberikan inspirasi kepada anak-anak agar memiliki impian. Termasuk panitia yang mengorganisir acara, semua melakukan dengan tanpa dibayar. Snack yang dimakan saat acara briefing adalah hasil “kotak amal” acara serupa sebelumnya. Itulah keikhlasan mereka, inilah kontribusi mereka.

“Think big, start small, act now”

Aku mendapatkan SDN Dengok I Playen. Sekolah ini berada di Gunung Kidul. Lumayan jauh dari Kota Yogya. Apalagi mendengar cerita Kepala sekolahnya, sekolah tersebut hanya 68 siswa dari kelas I-VI, jadi masing-masing kelas sekitar 9-12 orang. Orang tua mereka kebanyakan adalah petani. SD ini berada di sekitar perkampungan penduduk dan kebun/hutan jati. Ingatanku langsung melayang pada film Laskar Pelangi. Sekolah yang kelasnya hanya diisi 10 orang siswa. Sekolah yang harus dibangun dan dijaga impian para siswa-siswinya.

Setelah mengikuti briefing, penjelasan awal tentang kelas inspirasi, aku semakin antusias dengan kegiatan ini. Aku bersama dengan 13 orang teman yang lain dari berbagai macam profesi. Meraka rata-rata masih muda. Mereka masih sangat semangat dan energik. Ada yang dosen, bidan, owner, investment analys, bahkan ada yang sengaja datang dari Jakarta hanya untuk ikut kegiatan kelas inspirasi ini. Ada dua fotografer dan seorang videografer di tim kami.

Meskipun kami bukan sosok BJ. Habibi atau Anies Baswedan atau juga Anwar “Lima Menara” Fuady, bukan pula sosok Laily Prihatiningtyas, namun kami tetep berharap cerita tentang profesi kami, sehari bersama mereka akan membuka inspirasi bagi mereka, akan menjadi setitik cahaya bagi mereka, yang akan terus membesar bahkan menjadi matahari bagi lingkungannya. Dalam benak kami, tidak ada yang tidak mungkin jika mereka telah memiliki impian.  Menjadi sosok baru seperti BJ Habibi, Anis Baswedan atau Laily Prihatiningtyas pun bisa mereka raih, menjadi seperti profesi kami pun bisa mereka dapatkan. Asal mereka punya mimpi, punya impian.

Besok, sabtu (7/3/15) kami akan datang melakukan survey awal lokasi dan keadaan sekolah. Kami berharap dapat memperoleh gambaran mengenai sekolah yang akan menjadi lokasi. Kami berharap bisa memberikan kontribusi bagi anak-anak SDN Dengok I Playen Gunung Kidul.  Yeah, dengan senyum dan semangat,  dengan secuil kontribusi ini, bisa menjadi sumber inspirasi bagi anak-anak sana mewujudkan impiannya. SDN Dengok I, Kami akan datang !

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: