Perjalanan ke Tawangmangu (bag. 2)


air terjun grojokan sewu tawangmangu_20Keluar gerbang, saya mampir makan dan tentu saja beli minum di warung sebelah kanan. Ambil kembali pocari dingin dari dalam kulkas. Sambil menunggu nasi pecel tersaji, coba melihat kembali hasil jepretan tadi. Di depan jalan monyet berkeliaran hilir mudik, Ibu yang penjual mengingatkan agar pocari yang baru kuambil disimpan lebih dekat biar aman dari jarahan monyet. Di sebelah kiri warung itu atau paling ujung ada banyak toilet yang bisa dipakai.

Jalan pulang, disisi kiri jalan, banyak kuda dan tentu saja dengan pemiliknya yang menwarkan diri termasuk naik kuda menuju terminal. Ada juga warung-warung penjual oleh-oleh seperti keripik dll. Di pertigaan, belok kanan, melewati beberapa bis rombongan pengunjung. Lalu belok kiri. Kemudian akan bertemu dengan Masjid Hidayatul Akbar untuk sholat Dzuhur. Seperti ciri daerah pegunungan yang berhawa sejuk, di beberapa rumah Nampak bunga khususnya mawar menjadi pagar hidup. Usai sholat dzuhur, dari masjid bisa langsung ambil jalan ke kanan, dan akan bertemu dengan jalan sebelumnya sebelum sampai ke jalan raya menuju terminal. Menuju terminal adalah adalah jalanan menurun. Agak capek mengerem langkah. Namun akhirnya sampai juga di terminal.

Menunggu bis berangkat sekitar 5-10 menit saya dapat menikmati puncak Gunung Lawu yang hilang timbul tertutup awan. Sang kondektur Nampak bersahabat menjawab pertanyaanku itu gunung apa? Ternyata itu Gunung Lawu. “Oh… pantes dari luar jawa, makanya gak ngerti”, ujarnya. Dia malah bertanya berapa harga tiket masuk ke air terjun. Dia Nampak heran, kok mahal ya sekarang, sayapun menyerahkan dua lembar karcis yang tadi dibeli. “Oh,  satunya buat masuk Tawangmangu, satunya buat masuk air terjun”, ujarnya lagi. Dan waktu tak terasa. Waktunya bis jalan.

Pulang dengan jalan berkelok-kelok dan menurun. Di kiri kanan Nampak gunung, sawah atau sungai yang mengalir. Ciri khas daerah pegunungan. Namun tadi baik suhu maupun airnya, tidak sedingin seperti saat saya ke Cibodas (Mungkin karena ini Bulan Maret, dulu di Cibodas bulan Juli). Dan akhirnya sampai juga di ujung Jln. Ahmad Yani dekat stasiun Solo balapan. Dari situ saya berjalan lagi menuju stasiun. Lumayan…. Tapi masih dapat untuk naik kereta Sri Wedhari AC dengan tiket Rp. 10rb jam 15.25. Namun karena harus menunggu teman yang datang, akhirnya harus memilih kereta yang berikutnya : Prameks jam 18.55 atau kereta jarak jauh dengan harga Rp. 40rb. Karena sudah capek saya pun memilih Lodaya jam 18.45 dari jalur 6 peron utara. Enak, nyaman, bahkan kursi bisa satu-satu karena tidak banyak penumpang. Tiduran sambil ngecas Hp. Tanpa terasa jam 19.40 wib sudah sampai di Stasiun Tugu Yogyakarta kembali.

 

Kesan dan Saran

Di lokasi Obyek wisata air terjun Grojogan sewu sudah tertata dengan baik termasuk fasilitas penunjang bagi pengunjung. Banyak hotel, wisma, villa atau penginapan sekitar daerah air terjun. Air terjunnya sendiri sangat bagus, Nampak terjaga, harmoni dengan alamnya. Ditengah hutan rimbun dan bersatu dengan monyet-monyet (satwa alam). Bagi fotografer, perjalanan ke sana akan terobati dengan berbagai percobaan landscape maupun low speed nya. Bisa dari kiri, dari kanan, depan, dekat jauh dari air terjun. Tergantung sudut masing-masing. Dengan satu ND8 yang terpasang, f/22 dan cuaca yang cukup terang saat itu, maksimal atau paling lama hanya sampai 2,5 detik, Lebih dari itu sudah over exposure. Saat asyik memotret, hembusan / percikan kecil air terjun yang terbawa angin akan sampai kepada kita. Walah jadi ingat meme ini : Disitu kadang saya merasa sedih. Saya tidak berani terlalu dekat, karena lumayan membuat resiko pada kamera. Basah oleh uap air yang berhembus. Hembusan/percikan uap air ini tidak terus-terusan. Ada jedanya. Jadi bisa memilih waktu pengambilan gambar saat jeda itu. Tergantung angina kayaknya.

Di jalan turun atau naik dari air terjun memang banyak dipasang nomor emergency call yang bisa dihubungi, tapi harusnya tetap ada petugas yang berjaga di beberapa pos naik turun itu. Berpikir kalau-kalau ada pengunjung yang yang mengalami masalah. Apapun. Terutama masalah keselamatan dan keamanan. Lalu, petunjuk menuju lokasi sangat terbatas. Di depan jalan raya sana hanya ada papan petunjuk kecil menuju air terjun (makanya saya kelewatan, andai papannya besar saya bisa melihat dan minta turun). Dan saya jadi ingat iklan sebuah Rumah makan di Yogya yang sepanjang jalan menulis 5KM lagi beras tanpa formalin di RM…., 2 KM lagi Ikan bakar…di RM…. Dst. Di Tawangmangu, petunjuk menuju lokasi air terjun sangat terbatas. Berbeda dengan menuju air terjun Sri Gethuk di Gunung Kidul, sepanjang jalan menjelang lokasi, papan petunjuk selalu ada.

Foto dan cerita ke Tawangmangu bagian pertama disini

 

 

  1. Maret 12th, 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: