NTT (part 2)

Waikabubak-Waingapu-Kupang-Lembata (19-29 April 2015)

Air Terjun Oe Nesu Kupang_7y

Air Terjun Oenesu Kupang

NTT adalah provinsi dengan banyak pulau. Dari tiga pulau besar yang pernah kudarati memang memiliki banyak kesamaan. Kontur tanah yang lebih banyak tanah berkapur membuat kita mengerti kenapa saat di udara kita akan melihat atap rumah di wilayah NTT banyak yang berwarna putih (seng).

Di Daratan Sumba sendiri terdapat kampung adat yang mungkin sebagian masih mempertahankan warisan budaya leluhur. Bahkan mempertahankan hanya kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tetua adat di Kampung adat Weekabar menyebutnya Merapu. Mereka pun setia dengan budayanya yang beberapa terkadang secara logika tidak masuk akal tapi benar terjadi. Sepanjang daratan Sumba, kita akan melihat makam dari batu-batu besar (kini sebagian telah berinovasi dengan beton), dihalaman rumah masing-masing keluarga. Prosesi pemakaman membutuhkan banyak biaya dan harus dihadiri oleh sanak keluarga dan kerabat. Karena berbagai alasan diantaranya faktor ekonomi, banyak keluarga yang telah meninggal masih menunggu waktu yang tepat untuk dikuburkan. Selama masa menunggu ini, terkadang jenazah dalam peti harus diungsikan dari rumah (ke atas pohon disaat musim kemarau) untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan seperti kebakaran. Saat musim hujan, peti dan jenazah akan dibawa masuk kembali. Dan luar biasanya, sebagian masih menggunakan cara-cara tradisional untuk mengawetkan jenazah sehingga tidak berbau.

Menurut keterangan sopir yang mengantar kami, di beberapa rumah masih ada jenazah keluarga yang belum dikuburkan. Jika ingin menjenguk atau melihat harus membawa sesuatu misal sirih dan pinang.

Berikutnya kain khas NTT (dalam hal ini kain Sumba). Warna dan coraknya sangat khas. Saat menanyakan prosesi pembuatannya kepada Mamah Raja di Kampung Raja Waingapu, untuk pembuatan 1 kain bila dilakukan terus menerus tanpa terganggu kegiatan lain, membutuhkan waktu 6 bulan. Bisa dibayangkan kalau ada yang mengganggu maka proses pembuatan akan memakan waktu hingga bertahun-tahun. Hal yang sama juga diungkapkan seorang penenun di Kampung Rindi. Butuh waktu minimal 6 bulan. Mereka memulai membuat kain dengan diawali menggambar pola. Untuk membentuk pola seperti yang digambar, kain eh benang-benang tersebut diikat sehingga saat pencelupan kedalam tinta (alami) menjadi berpola. Benang awalnya putih semua, lalu dicelup kedalam pewarna biru atau….. (lupa) lalu diikat, dicelupkan lagi dst.

Di Kupang, ada satu air terjun yang sangat bagus. sayang jalan ke sana tidak terlalu bagus. Lokasinya pun tidak terawat. padahal air terjunnya sangat bagus. Bisa dijadikan retribusi PAD. Sama persis dengan para penjual ikan di pantai Kelapa Lima, kenapa tidak dibuatkan tempat untuk para pengunjung sekalian menikmati ikan bakar di lokasi tersebut? Itu adalah potensi untuk para nelayan pesisir agar lebih optimal pendapatannya. Sangat ironis, kalau mau makan ikan disitu, nasi harus beli sendiri di warung sebelah, pun demikian dengan air minum. Seandainya lapak-lapak ikan itu ditata dengan rapi, lalu dibelakangnya (diatas bibir pantai) dibuat tempat duduk untuk menikmati ikan bakar, maka lokasi Pantai Kelapa Lima akan menjadi pusat wisata kuliner ikan bakar.

Di salah satu sisi Kota Kupang juga terdapat pantai Lasiana. Meskipun sudah ada penjaga dan deretan penjual makanan, minuman, namun kondisi pantai juga masih belum di tata maksimal. Kawasan sekitar pantai masih dibisa dimanfaatkan untuk membangun sarana hiburan lain seperti waterpark. Keluar dari pantai, disisi kiri jalan ada beberapa rumah yang sedang mengolah, membuat gula aren. Enak, manis.

Lokasi terakhir adalah di Lewoleba Lembata. Daerah ini tidak memiliki jalan negara. Hanya jalan propinsi. Sebagai kabupaten pemekaran yang baru berumur lebih kurang 15 tahun, maka, masih banyak kondisi jalan yang rusak. Alat transportasi yang ditemui bukan bis seperti kebanyakan di daerah lain, tapi truck yang disulap jadi bis. Jagung titik, jagung yang ditumbuk menjadi gepeng akan banyak sekali ditemui dipasar. Pasarnya juga ada yang buka sore hingga malam hari. Di sudut pasar, kita bisa sekalian beli dan minta tolong dibakar kan ikannya.

*….. Kalau ada salah info/persepsi atau salah kata, mohon maaf ya…

  1. Januari 25th, 2016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: