Ketika Kamu Tulus

saat mati lampu

Mela Firraz mengaji saat listrik mati

Karena sesuatu alasan, istri harus pulang kampung dan selama 3-4 minggu terakhir aku harus mengurus 3 orang anak sekaligus. Kelas VI, Kelas IV SD dan yang baru masuk TK. Mulai dari makannya, Memandikan, membangunkan, membacakan cerita kalau mereka tidur, mengantar dan menjemput mereka sekolah dengan tempat sekolah dan waktu yang berbeda. Di sela-sela waktu itu, usai mengantar biasanya mampir kios atau pasar untuk membeli lauk/makanan dan atau memasaknya buat mereka. Lebih kurang sangat pas, usai urus-urus itu tiba waktunya jemput dst.

Dilain kesibukan urus anak, tugas sebagai mahasiswa juga tidak kalah penting, masih ada beberapa SKS mata kuliah yang belum rampung, masih ada janji dan tugas lain yang harus diselesaikan. Ada juga target agar semua beban persyaratan kuliah dibereskan segera agar bisa masuk ke tahap berikutnya. Jadinya sangat sibuk dan membagi banyak perhatian/fokus.

Salah satunya harus mengikuti tes kemapuan bahasa. Sudah ikut kursus, les dan latihan yang lumayan banyak dalam satu terakhir. Karena sudah mentargetkan harus lulus, maka selama 3 minggu tersebut mendaftarkan diri ikut tes. Tes I masih belum lulus, tes kedua juga hanya meningkat sedikit. Dengan kenyataan itu kok rada-rada pesimis bisa lulus, padahal saat tes rasanya bisa. Butuh kosentrasi mungkin. Tes ketiga pun sebenarnya ragu mau ikut, karena ketiadaan waktu yang cukup untuk lebih menyiapkan diri. “Gak apa-apa, ikut saja lagi”, ujarku dalam hati.

Terakhir membaca buku untuk persiapan tes adalah hari minggu, sebelum tes di Rabu siang itu, aku hanya bisa berdoa : Ya Allah, Jika Engkau menolong, tidak ada yang tidak mungkin, jika engkau berkendak tentu tidak sulit bagimu untuk membangunkan ingatanku untuk paham dengan soal-soal yang akan kukerjakan nanti, untuk menuntun tanganku melingkari, memilih jawaban yang benar. Engkau tau, aku sangat ingin segera lulus, tapi Engkau juga tau waktuku habis bersama anak-anakku, yang itu juga adalah kewajibanku. Semoga ketulusanku menyenangkan mereka, menjalankan kewajibanku kepada mereka Engkau ridhoi dan ber berkah saatku mengikuti ujian hari ini”.

Berusaha kosentrasi hingga ujian usai. Sepekan kemudian, dalam perjalanan pulang dari luar kota aku chek hasilnya. Ternyata belum lulus juga. Rasanya tidak percaya. Karena aku merasa yakin lebih bisa menjawabnya. Esoknya aku mendatangi langsung lembaganya, mengkonfirmasi. Subhanallah… ternyata nilaiku salah input system. Aku sudah lulus. Tak terkira senangku. Puji syukur padaMu ya Rabb yang telah mengabulkan doaku, juga mungkin doa anak-anakku yang tak terucap.

Begitulah…. Tak ada yang tak mungkin ketika tanganNya bergerak. Ketika usaha maksimal telah dilakukan. Ketika ketulusan dan kepasrahan (tawakal) telah demikian kuat. Allah akan mendengar doa mu. Sungguh tidak sulit bagiNya untuk mengatur semuanya.

Fakhri gambar dgn lilin 02

Fakhri menggambar

*Ini adalah kejadian kedua, dimana tanganNya telah memberiku pertolongan. Ketika aku sibuk dengan urusan syiar agamaNya saat kuliah belasan tahun silam. Hingga jam satu malam masih bergelut sebagai panitia hari besar agama, padahal esok paginya UAS. Saat pagi berangkat, aku hanya sholat hajat dan berdoa : Ya Allah, saya tidak sempat belajar, saya hanya berkutat dengan syiar agamaMu, saya percaya janjiMu  Jika menolong agamaMu, maka Engkaupun akan menolongku. Subhanallah, usai ujian teman-teman banyak mengeluh soal yang susah, sedangkan aku merasa yakin saat itu tidak akan HER. Dan benar saja, ternyata nilaiku tertinggi.  

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: