Indonesia dan Resiko Gempa Bumi 8.0 SR

lingkaran.transformed_0Dalam seminggu terakhir, kejadian gempa bumi terjadi di berbagai belahan dunia. Termasuk di Indonesia. Di jepang, gempa terjadi susul menyusul. Gempa pertama berkekuatan 6,5 SR, berselang 28 jam, terjadi lagi gempa dengan kekuatan 7,4 SR yang berpusat di dekat Kota Kumamoto di kedalaman 40 kilometer. “Gempa yang kedua bukan susulan, melainkan gempa utama, ini kejadian langka,” kata Irwan Meilano, pakar gempa bumi dari Institut Teknologi Bandung, Ahad, 17 April 2016 seperti dikutip tempo.co. Sedikitnya 41 orang dilaporkan tewas dalam gempa ini.

Jumlah korban tewas akibat gempa dahsyat di Ekuador mencapai 413 orang. Bahkan mungkin akan bertambah. Lebih dari 2.000 juga terluka dalam gempa 7,8 magnitude yang melanda kota-kota pesisir di Ekuador pada 16 April 2016 ini. Pusat gempa berada di kedalaman 19,2 kilometer.

Meskipun terjadi dihari yang sama, yaitu Sabtu 16 April 2016. Pakar gempa di Institut Teknologi Bandung (ITB), Irwan Meilano mengatakan bahwa dua bencana alam tersebut terjadi bukan karena rentetan satu dengan yang lain. Walaupun begitu, Jepang, Ekuador dan termasuk juga Indonesia termasuk dalam area cincin api atau yang disebut ring of fire pasifik. Cincin tersebut mencakup 40 ribu kilometer dari Selandia Baru melingkar menuju kepulauan Nusantara, Jepang, Alaska, sampai ke pesisir barat Amerika Selatan. Sering terjadi juga aktivitas tektonik di area ini.

Sedangkan Indonesia sendiri memiliki potensi gempa yang cukup besar. Namun menurut Irwan hal tersebut tidak ada kaitannya dengan rentetan gempa yang terajdi di kawasan selain Asia Tenggara. Sebab, seperti halnya Ekuador, Indonesia juga memiliki banyak subduksi lempeng (dua bagian kerak bumi yang bertabrakan) aktif. 

Subduksi lempeng itu terdapat di sebelah barat Sumatera; selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT), serta di Laut Banda. 

Di sebelah utara lengan Sulawesi juga terdapat zona subduksi. Termasuk subduksi dobel di lempeng Laut Maluku serta subduksi lempeng di sebelah utara Papua. 

Zona subduksi tersebut masih aktif sehingga potensi terjadinya gempa bumi kuat akibat aktivitas subduksi itu sangat besar.

“Dibanding Ekuador, ancaman gempa subduksi lempeng jauh lebih besar di negara kita. Kita seolah dikepung generator gempa bumi dari berbagai arah,” ujar Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono seperti dikutip oleh jawapos. 

Laman bmkg juga telah menuliskan faktor yang menyebabkan terjadinya gempa bumi, yaitu:

Menurut teori lempeng tektonik, permukaan bumi terpecah menjadi beberapa lempeng tektonik besar. Lempeng tektonik adalah segmen keras kerak bumi yang mengapung diatas astenosfer yang cair dan panas. Oleh karena itu, maka lempeng tektonik ini bebas untuk bergerak dan saling berinteraksi satu sama lain. Daerah perbatasan lempeng-lempeng tektonik, merupakan tempat-tempat yang memiliki kondisi tektonik yang aktif, yang menyebabkan gempa bumi, gunung berapi dan pembentukan dataran tinggi. Teori lempeng tektonik merupakan kombinasi dari teori sebelumnya yaitu: Teori Pergerakan Benua (Continental Drift) dan Pemekaran Dasar Samudra (Sea Floor Spreading).

Lapisan paling atas bumi, yaitu litosfir, merupakan batuan yang relatif dingin dan bagian paling atas berada pada kondisi padat dan kaku. Di bawah lapisan ini terdapat batuan yang jauh lebih panas yang disebut mantel. Lapisan ini sedemikian panasnya sehingga senantiasa dalam keadaan tidak kaku, sehingga dapat bergerak sesuai dengan proses pendistribusian panas yang kita kenal sebagai aliran konveksi. Lempeng tektonik yang merupakan bagian dari litosfir padat dan terapung di atas mantel ikut bergerak satu sama lainnya. Ada tiga kemungkinan pergerakan satu lempeng tektonik relatif terhadap lempeng lainnya, yaitu apabila kedua lempeng saling menjauhi (spreading), saling mendekati(collision) dan saling geser (transform).

Jika dua lempeng bertemu pada suatu sesar, keduanya dapat bergerak saling menjauhi, saling mendekati atau saling bergeser. Umumnya, gerakan ini berlangsung lambat dan tidak dapat dirasakan oleh manusia namun terukur sebesar 0-15cm pertahun. Kadang-kadang, gerakan lempeng ini macet dan saling mengunci, sehingga terjadi pengumpulan energi yang berlangsung terus sampai pada suatu saat batuan pada lempeng tektonik tersebut tidak lagi kuat menahan gerakan tersebut sehingga terjadi pelepasan mendadak yang kita kenal sebagai gempa bumi (bmkg.go.id)

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: