Cerita Banjir di Kota Bima Dalam Memori

akibat-banjir_tumpukan-sampah-dan-lumpur_2

Sampah dan Lumpur memenuhi KOta Bima pasca banjir

Kota Bima NTB, Rabu dan Jumat (21 dan 23 Desember 2016) dilanda bajir yang sangat besar. Banjir tersebut menelah kerugian lebit 1 triliun. Banjir tersebut menghanyutkan lebih 200 rumah dan merusak lebih 500 rumah lainnya. Tidak itu saja, berbagai sarana pendidikan dan kesehatan ikut menjadi korban banjir setinggi 1-3 meter tersebut. Banjir telah membuat kota Bima menjadi lumpuh. Menjadi kota yang penuh dengan sampah dan lumpur sisa banjir. Untunglah, berbagai bantuan terus mengalir untuk meringankan kondisi Kota Bima. Itu tentang banjir tahun 2016 ini.

Saat banjir menerjang Kota Bima tanggal 21 dan 23 Desember 2016 ini, aku memang tidak berada di Kota Bima. Rumah di kelurahan Santi juga tidak termasuk yang terkena dampak banjir. Dari jauh, hanya bisa kirim doa, bergabung dengan adik-adik di perempatan-perempatan jalan (minimal menemani mereka, memberi merekan minuman), untuk mengumpulkan berbagai bantuan dari pengguna jalan. Keprihatinan yang dalam, menggerakkan hati tidak saja bagi mahasiswa yang berasal dari Bima, namun juga masyarakat lain. Tiba-tiba ada rezeki, tiba-tiba pula langsung memutuskan berangkat ke Bima. Dalam persiapan keberangkatan, ada banyak titipan yang mengalir. Ngos-ngosan mencari obat-obatan dengan harga terbaik nun jauh disana, berlari-lari memanggul bawaan di last minute keberangkatan. Peluh dan keringat. Tapi tetap merasa senang karena sekecil apapun semoga bermanfaat buat orang-orang di Bima.

Sampai di Bima, memasuki Kota, meski sudah seminggu dari banjir pertama, kondisi kota masih “babak belur”. Sampah dan lumpur berserakan dimana-mana. Aspal terkelupas, dinding pagar yang roboh, memenuhi hampir seluruh bagian kota. Pasar dan pusat perdagangan lumpuh, sepanjang jalan dipenuhi masyarakat yang menjemur sofa, karpet, pakaian, sepatu bahkan uang.

Mengunjungi, berinteraksi dengan para korban, berbagai cerita dramatis mengalir. Mereka baru saja melalui hal yang “luar biasa” dengan caranya masing-masing menyelamatkan atau merasakan dampak banjir tersebut. Ada yang anaknya hampir hanyut, ada yang ternaknya lebih 10 ekor hanyut, ada yang harus menjebol tembok di jam 11 malam agar bisa menyelamatkan diri. Ada juga yang terpaksa pakai pakaian basah selama 3 hari. Mereka bercerita kelaparan bahkan mereka yang terjebak karena askes jalan terputus untuk keluar kota. Banyak lagi cerita mereka. Keadaan itu makin diperparah dengan listrik mati, jaringan seluler juga mati. Tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya berharap bantuan segera datang.

Saat itu mereka langsung lari mengungsi ke tempat-tempat yang tinggi termasuk di lantai atas rumah yang ada lantai atasnya. Mereka mengungsi di masjid-masjid yang ada lantai duanya atau yang tidak terkena banjir. Mereka bahkan tak sempat menyelamatkan barang-barang berharganya. Maka ketika ada bantuan datang, mereka menyambutnya dengan senyum cerah (masih ada yang peduli, masih ada yang membantu mereka). Tak lupa mereka berkata trima kasih dan kirim salam doa untuk para dermawan.

Itu cerita Tahun 2016 hingga 2017 ini. Dulu…. Waktu aku masih kelas 2 SMP (sekitar tahun 1988 atau tahun 1989), seperti kebanyakan anak Wera lain, saya sekolah di Kota dan dulu tinggalnya di belakang Puskesmas Ranggo (Asakota, sekarang). Pulang sekolah sore, buku dalam tas sudah basah. Jadilah di jemur, di angina-anginkan di baah kolong rumah. Hujan masih terus mengguyur. Jam 22 kami tidur. Jam 23.30 ada ribut-ribut bunyi kentongan di kampung sebrang (Ranggo). Kami tidak tau persis apa yang terjadi. Tapi dengar-dengar ada banjir. Lalu sekitar jam 01.00 tembok ujung pagar Puskesmas jebol… air sudah menggenangi sekitar 30 centimeter. Sadar banjir, semua anak kost disitu bersiap-siap. Dan byarrr…. Brak… tembok PKM jebol lagi, kali ini lebih dekat dengan tempatku. Maka spontan kami langsung keluar dan air sudah setinggi paha (waktu itu anak SMP). Mencari tempat mengungsi yang aman. Hanya kumpul-kumpul di jalan raya. Dibawah gerimis hujan. Sampai pagi. Pagi itu mencoba memasak, alamak… kayu bakar untuk masak basah semua. Api gk bs hidup. Air sumur gak bisa dipake. Akhirnya makan beras yang direndam air. Jam 9, kami mulai disuruh pulang. Naik mobil bak terbuka ke Wera. Jembatan di keli putus. Lanjut jalan kaki sampai ke Nangaraba. Itu sangat jauh. (kalo mikir sekarang, gak kebayang anak SMP gak tidur, diguyur hujan semalam, pagi hanya makan rendaman beras) Apalagi saat berjalan, kami berlari-lari sambil melihat tebing yang mungkin longsor sepanjang jalan Wera Barat (Ambalawi). Di Ambalawi sendiri termasuk daerah yang terkena banjir dan longsong yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa (kalau tidak salah 2-3 orang waktu itu). Setelah di Nangaraba barulah ada mobil/motor yang jemput dari Wera Timur. Dan sekitar jam 17.00 baru sampai dirumah.

Banjir kedua yang kuingat yang besar adalah saat kunjungan Sby. Banjirnya hanya di daerah Bima. Tempat tinggal dan kerjaku di Raba, sehingga meskipun air di jembatan Penatoi meluap, masih bisa dilalui. Dan banjirnya segera surut. Tidak terlalu banyak korban.

Semoga setelah banjir ini, Kota Bima bisa segera bangkit dan mengambil pelajaran berharga dari kejadian ini.

 

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: