Archive for the ‘ Religi ’ Category

Introspeksi diri di Sosmed (II)

BerhentiMedia Sosial atau medsos atau sosmed, ahir-akhir ini menjadi media penyebarluasan informasi yang paling efektif. Semua orang orang dengan mudah dapat memiliki dan mengakses berbagai sosial media.  Sosmed dimanfaatkan untuk berbagai keperluan seperti untuk berhubungan dengan orang lain, menjadi catatan harian online, menjalin pertemanan bahkan menemukan teman lama, sarana hiburan, tempat menyalurkan hoby dan mencari uang/bisnis, untuk update informasi dan pengetahuan.

Sosmed juga dimanfaatkan untuk beradu argumen tentang suatu topik atau status, berita, opini, gambar, dll yang disebarkan. Sangat sering kita membaca berbagai pro kontra tentang suatu topik dll tsb. Argumen dan balasan argumen. Tidak pandang umur, jabatan, ketokohan atau gelar. Yang penting bisa membalas, menjelaskan, langsung tulis. Ada yang dengan pengalaman, dengan analisis, dengan fakta, dengan kaidah ilmiah, dengan undang-undang dan bahkan kitab suci menjadi rujukan argumen. Seolah tidak pernah selesai. Tentu saja masalah politik menjadi bahan diskusi yang cukup panjang. Walaupun banyak  juga diskusi tentang tim orahlaga kesayangan dan tokoh idola. Ada yang menghujat, ada yang membela, ada yang menyindir, ada yang memfitnah. Semuanya sangat tergantung cara pandang masing-masing. Tergantung subyektifitas kita sendiri. Banyak mengklaim bahwa dirinyalah yang  benar. Yang lain salah, yang lain haters, yang lain pencitraan, yang lain tukang fitnah, yang lain tukang nyinyir, dll. Padahal kebanyakan sama saja, tidak ada yang lebih baik. Sama-sama nyinyir, sama-sama berdasarkan subyektifitas, sama-sama asal bela. Baca lebih lanjut

Introspeksi diri di Dunia Sosmed

30wTidak bisa dipungkiri bahwa era kini adalah era media. Media bisa menaikkan atau menjatuhkan seseorang. Media bisa sangat berguna untuk menyebar pesan kebaikan, kekerabatan dan kasih sayang. Sebaliknya, media juga bisa tidak berguna bahkan berdampak negatif  manakala dimanfaatkan untuk menyebarkan kebohongan, kebencian, hasut dan fitnah.

Kita adalah manusia biasa. Yang sampai kapanpun kita TIDAK AKAN PERNAH menjadi sempurna. Sehingga kita tidak mesti menunggu sempurna dulu, menunggu tidak pernah salah dan dosa dulu baru  boleh saling mengingatkan, saling menasehati. Tidak harus jadi professor dulu baru berbagi ilmu. Siapapun bisa menyampaikan pesan kebaikan dan ilmu yang bermanfaat buat orang banyak, apalagi di era sosmed seperti saat ini.

Namun ketika menasehati, melemparkan ilmu kebaikan kepada orang lain, maka yang pertama harus dinasehati dengan ilmu tersebut adalah diri kita sendiri. Bukan untuk pamer kesholehan atau pamer ilmu apalagi pamer kehebatan kepada followers di sosmed.  Adalah kontradiktif apabila kita melarang orang lain menghina, menjelekkan, menggunjing, menyindir orang lain sementara kita sendiri melakukannya dengan cara menghina, menjelekkan dan atau juga menyindir. Lalu APALAH LEBIHNYA kita dari orang yang kita jelekkan, hina dan sindir itu? Tidak ada lebihnya. Tidak lebih baik. Sama saja.

Sangat mudah orang lain melihat kesombongan kita, baru dengan secuil ilmu yg kita miliki seolah sudah menjadi yang paling pakar, paling pinter bahkan mungkin menganggap pendapat orang lain tidak ada yang benar atau menjustifikasi orang lain yang berbeda adalah salah (salah ilmu, salah jalan, salah-salah lainnya) dan hanya saya dan kelompok saya yang benar. Padahal seharusnya semakin berilmu, semakin sadar diri bahwa masih begitu banyak kekurangan kita. Semakin takut untuk menganggap rendah/remeh orang lain. Sehingga kita bisa belajar lagi. Belajar dari siapapun, bahkan mungkin dari anak kecil atau orang yang kita anggap hina dan tidak berilmu sekalipun. Atau saat ini belajar dari media yang mungkin KITA ANGGAP sesat, mainstream, ekstrim, provokatif, fitnah, penyebar kebencian, dll yang tidak sesuai keinginan kita. Minimal kita jadi tau jalan pemikiran media tersebut. Jika dirasa tidak bermanfaat, TINGGALKAN !

Toh masing-masing media itu juga memberikatakan sesuai kepentingan, sesuai garis organisasi, sesuai sudut pandang masing-masing. Positifnya, bahan bacaan tidak lagi dimonopoli media tertentu. Kita jadi punya berita pembanding dari sudut pandang yang berbeda. Jadi, santai saja.
Baca lebih lanjut

Ketika Kamu Tulus

saat mati lampu

Mela Firraz mengaji saat listrik mati

Karena sesuatu alasan, istri harus pulang kampung dan selama 3-4 minggu terakhir aku harus mengurus 3 orang anak sekaligus. Kelas VI, Kelas IV SD dan yang baru masuk TK. Mulai dari makannya, Memandikan, membangunkan, membacakan cerita kalau mereka tidur, mengantar dan menjemput mereka sekolah dengan tempat sekolah dan waktu yang berbeda. Di sela-sela waktu itu, usai mengantar biasanya mampir kios atau pasar untuk membeli lauk/makanan dan atau memasaknya buat mereka. Lebih kurang sangat pas, usai urus-urus itu tiba waktunya jemput dst.

Dilain kesibukan urus anak, tugas sebagai mahasiswa juga tidak kalah penting, masih ada beberapa SKS mata kuliah yang belum rampung, masih ada janji dan tugas lain yang harus diselesaikan. Ada juga target agar semua beban persyaratan kuliah dibereskan segera agar bisa masuk ke tahap berikutnya. Jadinya sangat sibuk dan membagi banyak perhatian/fokus. Baca lebih lanjut

Hikmah Isra Mi’raj

triple jupiter bulan venusSetidaknya menurut saya ada 4 hikmah dari kejadian isra mi’raj ini:

1. Kesadaran akan kebesaran Allah

Logikanya Isra Mi’raz itu benar dan logis. Jika Nabi Muhammad adalah milik Allah dan langit serta alam ini milik Allah dan dalam kondisi ini Allah yang menghendaki, apa susahnya? Sederhananya seperti ini. Jika kita punya balpoint lalu anda taruh di meja dan mau anda pindahkan ke saku, ke laci, ke atas rak buku, tidak susah bukan? Karena balpoint itu adalah milik kita.

Perjalanan isra Mi’raj kan ada perjalanan horizontal dan vertical. Saat perjalanan vertical ini kita percayai sebagai perjalanan sampai menembus langit yang ketujuh. Mari kita lihat betapa Kuasanya Allah pemilik jagat raya ini. Apa yang bisa dilihat dari Bumi hanya sebagian kecil dari jumlah bintang di Galaksi Bima Sakti. Perkiraan terbaik menurut ilmu pengetahuan adalah bahwa di Galaksi Bima Sakti saja ada sekitar 200 – 400 miliar bintang-bintang. Matahari sebagai contohnya.  Jarak bumi ke matahari adalah 150 juta kilometer. Ini akan susah kita menghitungnya. Maka untuk mempersingkat, kita menggunakan satuan tahun cahaya dimana dimana kecepatan cahaya itu mencapai 299. 792 km/detik atau dibulatkan menjadi 300.000 km/detik. Dengan jarak dan kecepatan cahaya sekian maka dibutuhkan waktu 8 menit agar cahaya dari matahari sampai di bumi . Jadi, sinar matahari yang sampai ke mata kita sekarang adalah sinar matahari 8 menit yang lalu. Cahaya matahari itu berjalan selama 8 menit barulah sampai ke mata kita. Contoh lainnya adalah bintang Alpha Century yang jaraknya dari bumi adalah 4 tahun perjalanan cahaya. Jadim Kalau kita melihat bintang kembar pada malam hari, maka sebetulnya itu bukanlah cahaya bintang kembar saat itu, melainkan cahaya bintang 4 tahun yang lalu. Di belakangnya lagi ada bintang yang berjarak 10 tahun perjalanan cahaya. Bayangkanlah kalau kita mau menuju bintang berjarak 10 tahun cahaya menggunakan pesawat ulang alik yang kecepatannya 20 ribu kilometer per jam. Maka dibutuhkan waktu 500 tahun untuk sampai ke bintang tersebut. Di belakang bintang berjarak 10 tahun cahaya ada bintang berjarak 100 tahun cahaya, di belakangnya lagi ada yang berjarak 1000 tahun cahaya, yang berjarak 1 juta tahun cahaya, dan juga yang berjarak 1 milyar tahun cahaya. Yang terjauh diketahui oleh ilmuwan Jepang yaitu yang berjarak 10 milyar tahun cahaya. Sampai disini kita bisa banyangkan betapa kecilnya bumi kita, apalagi diri kita. Baca lebih lanjut

Badai pun ada Hikmahnya

anginSabtu sore, 14 Februari 2015, Kota Yogyakarta dan sekitarnya dilanda hujan angina yang cukup kencang, kalau tidak disebut badai. Saat itu aku sedang tertidur karena ke-ngantuk-an di depan laptop di ruang tengah jadi kaget terbangun dan melihat ke jendela/pintu depan. Wah, angina nya kenceng banget. Dahan pohon Nampak jatuh di atas antena tv, buru-buru TV yang sedang Melati tonton kumatikan. Sekalian cabut colokannya.

Hikmahnya?

Aku tinggal di sini baru sekitar sebulan, disamping dan belakang rumah di halangi oleh tembok tinggi, sementara di halaman dibalik tembok tinggi tersebut ada beberapa pohon yang cukup tinggi dan sebagian dahannya masuk ke dalam halaman rumah. Sepanjang tinggal di sini aku sering berpikir, “orang nie harusnya mikir, itu dahan pohonnya sebagian besar masuk dan tentu saja daunnya banyak yang jatuh, mengotori halaman rumah orang tiap hari. Mending juga pohon mangaa, rambutan sejenis, bisa dimakan. Tapi ini daunnya tok. Harus nyampu terus”. Tapi yang paling mengganggu adalah yang di bagian belakang. Itu membuat halaman praktis tidak ada matahari yang bisa masuk. Baca lebih lanjut

Begitulah Skenario Tuhan (2)

 

Fakhri dan Ibunya suatu pagi di Ncai Kapenta

Fakhri dan Ibunya suatu pagi di Ncai Kapenta

Akhirnya PK lagi. Begitu kutulis di status Bbm ku. Aku memang merasa senang banget. Kangenku pada Melafirraz akan terobati. Bayangan melihat empat dari lima pohon mangga di rumah berbuah dan memetiknya makin membuat nafsu pulangku makin menjadi-jadi. Seperti cerita Begitulah Skenario Tuhan (1) akhirnya sampai di rumah jam 7.45 wita (14/11/12). Benar saja, mangganya sudah banyak yang matang. Istri dan anak-anakku tidak banyak yang bisa mereka jangkau… Kates di pojok, lima biji buahnya yang sudah matang juga tidak di dipetik-petik. Wah…. jadilah dua hari prtama di rumah pesta  buah mangga (manalagi dan madu).

Acara PK (pulang kampung) ini hanya lebih kurag seminggu. Jadi,  aku harus efisien waktu. Senin pagi rencanaku ke desa. Kunjungi Bapak Ibu. Aku berencana hanya berangkat dengan si bungsu Fakhri, pakai Shogun 125 ku. Istriku kerja, Melafirraz sekolah. Saat mau berangkat kerja tiba-tiba istriku berujar  mau ikut juga, setelah minta ijin di kantornya via sms akhirnya berangkat, mampir di sekolah Melafirraz untuk serahin kunci rumah. Ah, ada yang lupa, akhirnya harus balik lagi untuk kasitau tetangga yang biasa jemput agar nanti jemput Mela Firraz. Awalnya juga rencana mengisi bensin di jalan, tapi karena sudah bolak balik akhirnya mengisi bensin di pom bensin terdekat dan sekitar jam 07.30 wita kami joss melaju. Fakhri duduk di depanku, kesukaan dia.

Menuju ke desa aku harus melewati jalan berliku diatas gunung. Di puncak dari gunung yang harus kulewati itu ada jalan lurus yang biasanya dipakai secara maksimal kecepatannya (orang daerahku menyebutnya jalan Ncai kapenta. Di pertengahan jalan lurus ncai kapenta tersebut ada tanjakan atau dari arah kota berarti turunan.

Sekitar 1km sebelum itu, si Fakhri anakku minta pindah ke belakang (tumben, atau  mungkin dia ngantuk mikirku). Saat melaju di jalan lurus ncai kapenta itu, saat jalan mnurun itu aku berpapasan dengan dumptruck (truk pengangkut material bangunan-pasir) yang sudah pasti dengan kecepatan tinggi. Pilihan aman bagiku hanya menyingkir, amannya harus keluar dari aspal. Naas, pinggir aspal yang kukira aman ternyata ternyata sisa-sisa tanah bawaan banjir akibat hujan semalan. Sdh pasti licin dan …. Baca lebih lanjut

Begitulah Skenario Tuhan (1)

Bandara Internasional Lombok

Bandara Internasional Lombok

Kamis sore (13/11/14) aku berangkat dari Bandara Adi Sucipto dalam cuaca hujan. Pikirku hujan hanya disini, di bandara tujuan kemungkinan tidak ada hujan. Apalagi nanti sampainya di Lombok jam 20.00 wita (mbuh teori darimana kalau malam, kalau di bandara tujuanku tidak ada hujan). Pikirku, asal sudah take off, insyaAllah semua akan lancar. Dan Seingatku inilah pertama kalinya aku tidak mengalami delay dengan maskapai ini. Begitu pesawat take off aku langsung pejamkan mata, sempat terbayang “bagaimana yah rasanya pesawat yang di bajak hampir mendarat paksa lalu datang bintangnya meyelamatkan pesawat, lalu memmbawa pesawat naik (tajam) kembali”. Ada-ada saja. Lewat setengah jam, aku terbangun. Mungkin karena beberapa goncangan pesawat atau juga beberapa pengumuman dari awak kabin yang termasuk mnejajakan berbagai produk. Baca lebih lanjut