Archive for the ‘ Kesehatan ’ Category

Lean Six Sigma Dalam Pelayanan Kesehatan (bag.2)

LSS bag 2Six Sigma

Six sigma adalah sebuah sistem yang komprehensif dan fleksibel untuk mencapai, mempertahankan dan memaksimalkan sukses bisnis. Six sigma secara unik dikendalikan oleh pemahaman yang kuat terhadap kebutuhan pelanggan, pemakaian yang disiplin terhadap fakta, data dan analisis statistik dan perhatian yang cermat untuk mengelola, memperbaiki dan menanamkan kembali proses bisnis (Pande et al., 2000).

Six sigma adalah strategi perbaikan bisnis untuk menghilangkan pemborosan, mengurangi biaya karena mutu yang buruk dan memperbaiki efektifitas semua kegiatan operasi, sehingga dapat memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan (Nasution, 2015). Six Sigma dapat  memberikan pemimpin dan  kalangan  eksekutif bisnis akan strategi, metodologi, infrastuktur, alat dan tehnik bagaimana bisnis harus dijalankan (Kumar, Antony, & Douglas, 2011)

Knowles (2011) memberikan tiga elemen yang jelas tentang definisi Six Sigma yaitu sebagai: (1) Sebuah Pengukuran, yaitu sebuah definisi statistic sejauh mana sebuah proses bervariasi dari seharusnya, (2) Sebuah target, yaitu angka 3,4 kesalahan/kecacatan dalam sejuta kesempatan dn (3) Sebuah Filosofi, yaitu Sebuah istilah bagi strategi bisnis jangka panjang yang berfokus pada penurunan biaya melalui pengurangan variasi dalam produk dan proses.

Perbaikan atau peningkatan Six Sigma menjadikan ukuran dan statistic sebagai materi kunci. Namun, ukuran dan statistic bukanlah penentu secara keseluruhan. Six Sigma tidak terikat pada satu metode atau strategi tunggal. Dalam kepemimpinan dan kinerja bisnis, Six Sigma merupakan suatu sistem yang fleksibel. Beberapa perusahaan yang telah mengadopsi dan menjalankan praktek Six Sigma telah membuktikan peningkatan keuntungan yang sangat tinggi.  Kisah sukses seperti perusahaan General Electric dan Motorola adalah suatu contoh pencapaian Six Sigma. Dorongan atas ide-ide yang luar biasa dan keinginan yang kuat untuk melayani pelanggan adalah nilai yang ditunjukkan oleh Six Sigma. Sehingga organisasi lain seperti pemasaran, jasa, sumber daya manusia, keuangan dan penjualan juga dapat mengaplikasikan nilai-nilai dari six sigma   (Pande et al., 2000)

Kata Six Sigma merupakan istilah statistik yang mengukur seberapa jauh suatu proses menyimpang dari seharusnya (keadaan sempurna). Mengukur berbagai kekurangan-kekurangan yang ada dalam suatu proses merupakan Inti dari konsep Six Sigma. Hal tersebut berarti dapat menghilangkan berbagai penyimpangan yang ada secara sistematis dan lebih dekat pada pencapaian tidak ada (nol) kecacatan/kekurangan. Proses yang sangat disiplin merupakan inti pendekatan six sigma. Proses ini dapat membantu organisasi fokus pada pengembangan dan memberikan produk atau jasa yang nyaris sempurna (Selvi & Majumdar, 2014) Baca lebih lanjut

Lean Six Sigma dalam Pelayanan Kesehatan (bag.1)

LSS bag 1Lean Six Sigma merupakan sinergi dari Lean dan Six Sigma (Gaspersz, 2007). Lean adalah metodologi perbaikan proses yang digunakan untuk memberikan produk dan layanan yang lebih baik, lebih cepat, dan dengan biaya yang lebih rendah (Antony & Laureani, 2011). Sedangkan Six Sigma adalah metodologi yang cukup akurat untuk memecahkan masalah dalam proses bisnis (Bentley & Davis, 2010). Six Sigma adalah salah satu perkembangan paling penting dan popular dalam bidang kualitas (Knowles, 2011). Six Sigma memberi potensi keuntungan yang sama-sama signifikan termasuk bagi organisasi jasa dan aktifitas non pemanufakturan (Pande et al., 2000).

Lean Six Sigma (LSS) adalah salah satu pendekatan dan trend terkini dalam konsep manajemen dan perkembangan mutu (Maleyeff et al., 2012; Russell & Taylor, 2010). LSS telah menjadi yang terdepan dari semua yang telah dikembangkan dalam manajemen mutu (E. C. Jones, 2014). LSS adalah toolkit terbaik yang dapat membantu berpikir di luar kebiasaan dalam bisnis (Arthur, 2011a). Menjadikan organisasi dan struktural berfungsi sebagai pelaksanaan mutu merupakan salah satu aspek kunci yang membedakan Lean Six Sigma dari upaya mutu sebelumnya. Lean Six Sigma memperkenalkan infrastruktur organisasi formal untuk berbagai peran implementasi mutu (Antony & Laureani, 2011)

Lean bertujuan untuk menghilangkan pemborosan (waste), memperlancar aliran. Six Sigma bertujuan untuk menurunkan variasi proses dan mengendalikan proses. Integrasi antara Lean dan Six sigma akan meningkatkan kinerja melalui peningkatan kecepatan dan akurasi (zero defect) serta perbaikan terus-menerus menuju customer value (Gaspersz, 2007). Lean dalam pelayanan kesehatan adalah konsep yang sangat jelas yang berhubungan dengan mutu, keselamatan pasien, biaya, waktu tunggu dan moral staf.  Dalam alur pelayanan pasien, fokus lean adalah aliran yaitu dengan mengeliminasi proses yang tidak perlu. Sedangkan fokus Six Sigma adalah Problem-Solving sehingga upaya perbaikan yang dilakukan memiliki kecepatan dan mutu (Arthur, 2011b; Graban, 2012). Mengimplementasikan metodologi Lean Six Sigma dengan benar akan menjadikan kombinasi ini sebagai metodologi yang sangat hebat bagi upaya perbaikan bisnis proses disebuah organisasi (Snyder & Peters, 2004).

Lean menyangkut kecepatan dan efisiensi. Sedangkan Six Sigma adalah tentang presisi dan akurasi. Keduanya pada dasarnya saling melengkapi dan ketika dikombinasikan lean dan Six Sigma dapat mengatasi proses inefisiensi (Lean) dan variasi proses (Six Sigma) sebagai upaya tunggal : Lean Six Sigma (Arumugam, Antony, & Douglas, 2012). Lean telah menjadi kunci keberhasilan Toyota. Menurut Jeffrey K. Liker (2004), Organisasi apapun, proses bisnis manapun dapat menerapkan model keberhasilan Toyota ini. Sedangkan Six sigma telah menghasilkan kisah sukses seperti pada General Electric dan Motorola.

 

Lean

Memurut Womack & Jones (1996), terdapat lima prinsip dasar dari Lean, yaitu :

  1. Value

Value adalah setiap aktifitas yang bermanfaat bagi pelanggan/pasien. Pemikiran lean berfokus pada nilai tambah pelanggan (value), setiap kegiatan yang tidak mempunyai nilai tambah adalah pemborosan (waste). Jika waste dihilangkan, maka pelanggan menerima nilai tambah layanan yang lebih. Metodologi lean memberikan beberapa petunjuk spesifik yang menentukan apa yang menjadi Nilai Tambah bagi pelanggan (Value Added-VA) dan yang tidak memberikan nilai tambah bagi pelanggan (Non Value Added-NVA) serta diperlukan tapi tidak memberikan nilai tambah (necessary but non-value adding-NNVA) (Hines & Rich, 1997). Baca lebih lanjut

Mutu Pelayanan Kesehatan (bag.2)

Mutu yankes Bag 2Upaya perbaikan dalam pelayanan kesehatan juga mencakup pada upaya perbaikan mutu. Terdapat banyak alat dan pendekatan yang bisa dilakukan atau digunakan dalam upaya perbaikan mutu ini. Menurut Ramsom, Joshi, Nash, & Ransom (2011), dalam buku The Healthcare Quality Book, Vision, Strategy and Tools, berikut adalah proses dan pendekatan quality improvement yang bisa dilakukan pada sebuah organisasi pelayanan kesehatan :

  • PDCA/PDSA

Sebagai dasar bagi perencanaan dan pengarahan upaya-upaya perbaikan kinerja organisasi, Walter Shewhart mengembangkan suatu siklus yang disebut sebagai siklus PDCA (Ramsom et al., 2011). Siklus PDCA merupakan penerapan dari konsep pengendalian mutu. Hasil mutu yang optimal dapat diraih  melalui upaya pengendalian mutu yang juga optimal (Prihantoro, 2012).

Menurut Ramsom et al., (2011), langkah-langkah dalam PDCA/PDSA adalah sebagai berikut :

  1. Tahap I : Plan
    • Tujuan: Apa yang coba dicapai? Apakah itu tujuan?
    • Pertanyaan dan prediksi: apa yang Anda pikirkan akan terjadi?
    • Rencana untuk melaksanakan siklus: Siapa? Apa? Kapan? Dimana?
  2. Tahap II : Do
    • Mendidik dan melatih staf.
    • Melaksanakan rencana (misalnya, mencoba perubahan di skala kecil)
    • Dokumen masalah dan pengamatan yang tak terduga.
    • Mulai menganalisis data.
  3. Tahap III : Study/Check
    • Menilai efek dari perubahan dan menentukan tingkat keberhasilan  sebagai perbandingan dengan tujuan.
    • Membandingkan hasil untuk memprediksi.
    • Meringkas pembelajaran.
    • Menentukan perubahan apa yang perlu dilakukan dan apa tindakan yang akan diambil berikutnya.

Baca lebih lanjut

Mutu Pelayanan Kesehatan (bag.1)

Mutu Yanke bag 1Meskipun dalam sejarahnya istilah mutu didefinisikan dalam banyak persepsi, namun pada akhirnya mutu selalu bertujuan untuk memuaskan pelanggan. Sehingga pengertian mutu tidak selalu identik dengan mahal dan serba “wah”, namun bisa jadi dalam bentuk kegiatan sederhana yang efisien, efektif, aman, cepat dan mudah dijangkau. Mutu tidak didapat dengan proses simsalabim atau tiba-tiba. Mutu akan diperoleh melaui pendekatan yang serius, upaya terus menerus dan keterlibatan seluruh sumber daya dalam organisasi.

Mutu merupakan fokus terkini dari setiap pelayanan kesehatan. Mutu menjadi tiga landasan utama dalam pemberian pelayanan kesehatan bersama akses dan biaya. Mutu dapat dicapai melalui pemberian pelayanan yang terjangkau, yang pantas, yang efisien dan hemat biaya, serta terjangkau. Layanan dikatakan bermutu jika layanan tersebut berorientasi pada pelanggan, tersedia, memadai dan mudah dikelola. Beberapa alasan bagi suatu organisasi untuk memperhatikan mutu pelayanan nya antara lain adalah: meningkatnya tuntutatn pelayanan yang efektif dan tepat, perlunya upaya penghematan biaya, tuntutan akreditasi, sertifikasi dan peraturan perundang-undangan, persaingan usaha dan rencana pengembangan pasar, kebutuhan akan upaya perbaikan dan mencapai kesempurnaan, serta pertimbangan-pertimbangan etika (A. Al-Assaf, 2009). Baca lebih lanjut

Biasa kencing di kolam?

wah, kalau itu pernah Anda lakukan, sebaiknya sekarang dipikir lagi dan jangan lakukan ! seperti dikutip dari merdekaonline bahwa sudah menjadi rahasia umum kalau terkadang orang suka buang air kecil secara sembunyi-sembunyi ketika berenang. Sebab mereka berpikiran bahwa perilaku ini tidak akan diketahui oleh siapapun. Meskipun begitu, sebaiknya Anda berpikiran berulang kali untuk melakukan perilaku memalukan ini.

Dilansir dari dailymail.co.uk, percampuran antara urin serta klorin yang biasanya digunakan untuk membersihkan kolam renang mampu menghasilkan senyawa beracun yang membahayakan kesehatan tubuh. Baca lebih lanjut

Makanan Bagus Untuk Mengurangi Lemak Perut

Buah Apel (Gbr : teruskandotcom)

Buah Apel (Gbr : teruskandotcom)

“Wah, seiring usia, ne perut makin bengkak sajah…..”
begitu mungkin ujar-ujar kita kala melihat perut kita yang semakin gembung. seperti dikutip dari beritasatu, Bagi sejumlah orang, memiliki perut buncit tak hanya dapat mengganggu penampilan tapi juga membuat tidak nyaman.

Ada cara terbaik untuk menyingkirkan perut gendut tersebut yaitu dengan menerapkan diet rendah kalori dan olahraga.

Kara Landau, ahli gizi dan penulis lepas di Travellers Dietition, berbagi tips soal sejumlah makanan dan minuman yang dapat membantu Anda untuk mendapatkan perut yang rata.

Berikut ini 10 makanan dan minuman tersebut:

1. Almond

Almond tidak hanya kaya vitamin E dan protein, tapi juga kaya serat. Hal itu bisa membantu Anda tetap merasa kenyang untuk waktu yang lama. Walaupun makanan ini sedikit tinggi kalori, tapi tidak menyebabkan perut buncit. Jadi Anda bisa menjadikan almond sebagai camilan untuk mengendalikan rasa lapar.

2. Semangka

Buah ini mengandung 82 persen air yang akan membantu Anda untuk merasa kenyang dalam waktu lama. Tak hanya itu. Semangka juga membantu membuang kelebihan sodium dalam tubuh Anda. Buah yang sangat manis ini juga kaya vitamin C dan mengandung 100 kalori dalam setiap cangkirnya. Jadi Anda bisa makan buah ini sebagai camilan.

3. Kacang

Mengonsumsi kacang secara teratur dapat membantu menyingkirkan lemak dalam tubuh, mengembangkan otot dan memperbaiki pencernaan. Kacang juga dapat membantu Anda merasa kenyang dalam waktu lama. Baca lebih lanjut

Membuat Value Stream Mapping (VSM)

Langkah kedua dalam lima prinsip lean adalah menyusun Value Stream Mapping (VSM). VSM merupakan gambaran dari aktivitas pelayanan sejak pelayanan diminta oleh customer (pasien) sampai permintaan tersebut dipenuhi. VSM adalah sebuah susunan diagram (peta) yang mengidentifikasi berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu proses, waktu tunggu antara langkah-langkah dalam satu proses, serta mengungkapkan dan menggambarkan dari sudut pandang pasien bahwa waktu yang dihabiskan untuk menunggu proses selanjutnya merupakan pemborosan atau waste. Tujuan utama dari VSM adalah untuk memperbaiki proses dengan mengidentifikasi dan mengeliminasi waste ini.

Dalam pelayanan kesehatan setidaknya terdapat 7 (tujuh) macam “flows” yaitu : pasien, staf, obat-obatan, persediaan, perlengkapan, proses pembangunan dan informasi. VSM digunakan untuk memetakkan flows ini.

Proses pemetaan untuk lingkup yang terbatas biasanya memakan waktu 2 hari. Langkah-langkah dan waktu  dalam proses mapping harus diverifikasi melalui pengumpulan data dan observasi. Hal ini dimaksudkan agar kita mengetahui keadaan saat ini dan mencerminkan segala sesuatu yang terjadi dalam proses pelayanan tersebut. Bahkan melalui VSM kita dapat melihat aliran informasi dan komunikasi yang terjadi antara orang-orang dalam unit yang berbeda.

Ketika membuat VSM perlu diidentifikasi masalah yang harus diselesaikan terlebih dahulu, seperti waktu tunggu yang lama antara langkah-langkah dalam satu proses atau banyaknya proses yang berulang. Penyelesaian masalah diprioritaskan pada masalah-masalah yang berdampak besar pada pasien. Baca lebih lanjut