Archive for the ‘ 5S ’ Category

Seminar Lean Management di Jember

direktur RSTP Jember

Direktur RSTP Jember, dr. Arya Sidemen, SE, MPH

Salah satu trend terkini dalam manajemen rumah sakit di Indonesia adalah penerapan Manajemen Lean. Dengan Manajamen Lean rumah sakit dapat memberikan pelayanan yang berkualitas dengan biaya yang efisien. Manajemen Lean bukanlah hal yang baru. Manajemen Lean telah menjadi gaya manajemen bagi banyak perusahaan besar di dunia. Sebut saja Toyota di Jepang atau berbagai rumah sakit di Amerika dan Eropa. Toyota misalnya, produsen otomotif kenamaan dari Jepang telah mengembangkan sebuah system yang disebut Toyota Production System (TPS). Pada dasarnya TPS adalah upaya mengurangi atau menghilangkan pemborosan yang tidak perlu (waste). TPS dan apa yang dikembangkan oleh Toyota ini lah yang kemudian kita kenal saat ini sebagai istilah Lean. Toyota mendefinisikan lean sebagai dua komponen yaitu: 1) Total Elimination of waste dan 2). Respect for Peopole. Dalam penerapannya oleh manajemen umum disebut sebagai Manajemen Lean. Manajemen Lean inilah yang telah menjadi kunci keberhasilan Toyota hingga saat ini.

 

Manajemen Lean (Lean Management) merupakan salah satu metode dalam manajemen operasional untuk memperbaiki proses. Manajemen Lean dapat meningkatkan pendapatan, mengurangi biaya dan meningkatkan kepuasan pelanggan. Metode Lean yang digunakan dalam manajemen Lean ini akan merampingkan proses, mengembangkan proses yang lebih cepat, lebih efisien dan ekonomis, dan memberikan pelayanan yang memuaskan kepada pasien. Menurut Jeffrey K. Liker, seorang Amerika yang terus mengamati dan mengikuti Toyota way yang dilakukan oleh Toyota, Organisasi apapun, proses bisnis manapun dapat menerapkan model keberhasilan Toyota ini.

Bisa jadi semangat perbaikan proses dan terus melakukan perbaikan (continuous improvement) ini telah menginspirasi jajaran manajemen Rumah Sakit  Paru Jember untuk menggelar kegiatan seminar Manajemen Lean (kini RS Paru Jember umum disebut sebagai RSTP-Rumah Sakit Tiga Puncak-karena akan mengembangkan layanan pada tiga pilar utama yaitu : Paru, Bedah dan jantung). Baca lebih lanjut

Lean Six Sigma Dalam Pelayanan Kesehatan (bag.2)

LSS bag 2Six Sigma

Six sigma adalah sebuah sistem yang komprehensif dan fleksibel untuk mencapai, mempertahankan dan memaksimalkan sukses bisnis. Six sigma secara unik dikendalikan oleh pemahaman yang kuat terhadap kebutuhan pelanggan, pemakaian yang disiplin terhadap fakta, data dan analisis statistik dan perhatian yang cermat untuk mengelola, memperbaiki dan menanamkan kembali proses bisnis (Pande et al., 2000).

Six sigma adalah strategi perbaikan bisnis untuk menghilangkan pemborosan, mengurangi biaya karena mutu yang buruk dan memperbaiki efektifitas semua kegiatan operasi, sehingga dapat memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan (Nasution, 2015). Six Sigma dapat  memberikan pemimpin dan  kalangan  eksekutif bisnis akan strategi, metodologi, infrastuktur, alat dan tehnik bagaimana bisnis harus dijalankan (Kumar, Antony, & Douglas, 2011)

Knowles (2011) memberikan tiga elemen yang jelas tentang definisi Six Sigma yaitu sebagai: (1) Sebuah Pengukuran, yaitu sebuah definisi statistic sejauh mana sebuah proses bervariasi dari seharusnya, (2) Sebuah target, yaitu angka 3,4 kesalahan/kecacatan dalam sejuta kesempatan dn (3) Sebuah Filosofi, yaitu Sebuah istilah bagi strategi bisnis jangka panjang yang berfokus pada penurunan biaya melalui pengurangan variasi dalam produk dan proses.

Perbaikan atau peningkatan Six Sigma menjadikan ukuran dan statistic sebagai materi kunci. Namun, ukuran dan statistic bukanlah penentu secara keseluruhan. Six Sigma tidak terikat pada satu metode atau strategi tunggal. Dalam kepemimpinan dan kinerja bisnis, Six Sigma merupakan suatu sistem yang fleksibel. Beberapa perusahaan yang telah mengadopsi dan menjalankan praktek Six Sigma telah membuktikan peningkatan keuntungan yang sangat tinggi.  Kisah sukses seperti perusahaan General Electric dan Motorola adalah suatu contoh pencapaian Six Sigma. Dorongan atas ide-ide yang luar biasa dan keinginan yang kuat untuk melayani pelanggan adalah nilai yang ditunjukkan oleh Six Sigma. Sehingga organisasi lain seperti pemasaran, jasa, sumber daya manusia, keuangan dan penjualan juga dapat mengaplikasikan nilai-nilai dari six sigma   (Pande et al., 2000)

Kata Six Sigma merupakan istilah statistik yang mengukur seberapa jauh suatu proses menyimpang dari seharusnya (keadaan sempurna). Mengukur berbagai kekurangan-kekurangan yang ada dalam suatu proses merupakan Inti dari konsep Six Sigma. Hal tersebut berarti dapat menghilangkan berbagai penyimpangan yang ada secara sistematis dan lebih dekat pada pencapaian tidak ada (nol) kecacatan/kekurangan. Proses yang sangat disiplin merupakan inti pendekatan six sigma. Proses ini dapat membantu organisasi fokus pada pengembangan dan memberikan produk atau jasa yang nyaris sempurna (Selvi & Majumdar, 2014) Baca lebih lanjut

Lean Six Sigma dalam Pelayanan Kesehatan (bag.1)

LSS bag 1Lean Six Sigma merupakan sinergi dari Lean dan Six Sigma (Gaspersz, 2007). Lean adalah metodologi perbaikan proses yang digunakan untuk memberikan produk dan layanan yang lebih baik, lebih cepat, dan dengan biaya yang lebih rendah (Antony & Laureani, 2011). Sedangkan Six Sigma adalah metodologi yang cukup akurat untuk memecahkan masalah dalam proses bisnis (Bentley & Davis, 2010). Six Sigma adalah salah satu perkembangan paling penting dan popular dalam bidang kualitas (Knowles, 2011). Six Sigma memberi potensi keuntungan yang sama-sama signifikan termasuk bagi organisasi jasa dan aktifitas non pemanufakturan (Pande et al., 2000).

Lean Six Sigma (LSS) adalah salah satu pendekatan dan trend terkini dalam konsep manajemen dan perkembangan mutu (Maleyeff et al., 2012; Russell & Taylor, 2010). LSS telah menjadi yang terdepan dari semua yang telah dikembangkan dalam manajemen mutu (E. C. Jones, 2014). LSS adalah toolkit terbaik yang dapat membantu berpikir di luar kebiasaan dalam bisnis (Arthur, 2011a). Menjadikan organisasi dan struktural berfungsi sebagai pelaksanaan mutu merupakan salah satu aspek kunci yang membedakan Lean Six Sigma dari upaya mutu sebelumnya. Lean Six Sigma memperkenalkan infrastruktur organisasi formal untuk berbagai peran implementasi mutu (Antony & Laureani, 2011)

Lean bertujuan untuk menghilangkan pemborosan (waste), memperlancar aliran. Six Sigma bertujuan untuk menurunkan variasi proses dan mengendalikan proses. Integrasi antara Lean dan Six sigma akan meningkatkan kinerja melalui peningkatan kecepatan dan akurasi (zero defect) serta perbaikan terus-menerus menuju customer value (Gaspersz, 2007). Lean dalam pelayanan kesehatan adalah konsep yang sangat jelas yang berhubungan dengan mutu, keselamatan pasien, biaya, waktu tunggu dan moral staf.  Dalam alur pelayanan pasien, fokus lean adalah aliran yaitu dengan mengeliminasi proses yang tidak perlu. Sedangkan fokus Six Sigma adalah Problem-Solving sehingga upaya perbaikan yang dilakukan memiliki kecepatan dan mutu (Arthur, 2011b; Graban, 2012). Mengimplementasikan metodologi Lean Six Sigma dengan benar akan menjadikan kombinasi ini sebagai metodologi yang sangat hebat bagi upaya perbaikan bisnis proses disebuah organisasi (Snyder & Peters, 2004).

Lean menyangkut kecepatan dan efisiensi. Sedangkan Six Sigma adalah tentang presisi dan akurasi. Keduanya pada dasarnya saling melengkapi dan ketika dikombinasikan lean dan Six Sigma dapat mengatasi proses inefisiensi (Lean) dan variasi proses (Six Sigma) sebagai upaya tunggal : Lean Six Sigma (Arumugam, Antony, & Douglas, 2012). Lean telah menjadi kunci keberhasilan Toyota. Menurut Jeffrey K. Liker (2004), Organisasi apapun, proses bisnis manapun dapat menerapkan model keberhasilan Toyota ini. Sedangkan Six sigma telah menghasilkan kisah sukses seperti pada General Electric dan Motorola.

 

Lean

Memurut Womack & Jones (1996), terdapat lima prinsip dasar dari Lean, yaitu :

  1. Value

Value adalah setiap aktifitas yang bermanfaat bagi pelanggan/pasien. Pemikiran lean berfokus pada nilai tambah pelanggan (value), setiap kegiatan yang tidak mempunyai nilai tambah adalah pemborosan (waste). Jika waste dihilangkan, maka pelanggan menerima nilai tambah layanan yang lebih. Metodologi lean memberikan beberapa petunjuk spesifik yang menentukan apa yang menjadi Nilai Tambah bagi pelanggan (Value Added-VA) dan yang tidak memberikan nilai tambah bagi pelanggan (Non Value Added-NVA) serta diperlukan tapi tidak memberikan nilai tambah (necessary but non-value adding-NNVA) (Hines & Rich, 1997). Baca lebih lanjut

Mengidentifikasi Value

Value pasien (Gbr : I.Altarum)

Value pasien (Gbr : I.Altarum)

Langkah pertama dalam implementasi prinsip lean adalah Mengidentifikasi value. Fokus pemikiran lean adalah bagaimana sebuah kegiatan bernilai tambah bagi pelanggan (value).  Value adalah setiap aktifitas yang berkontribusi langsung untuk memenuhi kepuasan pasien dan setiap kegiatan yang tidak mempunyai nilai tambah adalah pemborosan (waste). Dengan demikian, jika waste dihilangkan, maka pelanggan menerima value dari pelayanan yang diberikan. Pelanggan biasanya hanya dapat mendefinisikan Value setelah pelanggan menerima sebuah pelayanan atau pada akhir sebuah pelayanan. Pada pelayanan kesehatan, pelanggan biasanya adalah pasien.

Dengan memperhatikan value ini, sebuah organisasi berarti telah memfokuskan kepentingan pelanggan yang dalam hal ini adalah pasien (patient center care). Pelayanan yang berpusat pada pasien ini merupakan komponen penting dari sebuah pelayanan kesehatan yang berkualitas.

 

Dalam manajemen lean ada beberapa petunjuk spesifik yang menentukan apa yang menjadi Nilai Tambah bagi pelanggan (Value Added) dan yang tidak memberikan nilai tambah bagi pelanggan (Non Value Added). Value added (VA) adalah proses yang mempunyai nilai tambah, misalnya menulis data pasien pada rekam medis. Non value added (NVA)/waste adalah kegiatan yang tidak mempunyai nilai seperti pasien menunggu untuk mendapatkan pelayanan selanjutnya atau menunggu karena dokter belum datang.

Baca lebih lanjut

Manajemen Lean

Lean adalah metode yang digunakan untuk merampingkan proses, sehingga meningkatkan pendapatan, mengurangi biaya dan meningkatkan kepuasan pelanggan. Lean mengembangkan proses yang lebih cepat, lebih efisien dan ekonomis, dan memberikan pelayanan yang memuaskan kepada pasien. Manajemen Lean (Lean Management) merupakan salah satu metode dalam manajemen operasional untuk memperbaiki proses. Termasuk proses dalam pelayanan pasien. Metode lean memiliki keunggulan yang dapat memenuhi semua skala operasional, strategis, taktis bukan hanya pada perusahaan manufaktur namun juga pada perusaan jasa seperti dalam pelayanan kesehatan. Karena dalam manajemen lean fokusnya adalah pada perbaikan alur proses dengan menghilangkan pemborosan (waste) yang dapat menganggu alur proses. Dengan mengaplikasikan manajemen lean maka sebuah unit bisnis termasuk rumah sakit dapat menghemat uang, waktu, ruang, alat dan bahan habis pakai serta persediaan logistic lainnya. Hal ini disamping memberikan efisiensi juga meningkatkan value bagi pasien (Nilai tambah dari perspektif pasien).

Pendekatan lean ini sebenarnya sudah lama digunakan pada perusahaan manufaktur. Toyota, produsen otomotif kenamaan dari Jepang telah mengembangkan sebuah system yang disebut Toyota Production System (TPS). Pada dasarnya TPS adalah upaya mengurangi atau menghilangkan waste. Dengan demikian pada dasarnya lean adalah tentang bagaimana menempatkan hal yang benar ke tempat yang tepat, pada waktu yang tepat, dalam jumlah yang tepat, secara terus menerus dan berkelanjutan untuk mencapai kesempurnaan. Baca lebih lanjut