Posts Tagged ‘ Mbojo ’

Tips Aman Menyaksikan Gerhana Matahari

gerhana-matahari-sebagian_kota-bima-100513_06-49-wita

Gerhana Matahari Sebagian, Tahun 2013

Hari Rabu, Tanggal 9 Maret 2016 besok, alam Indonesia akan menjadi sangat special. Dimana, pada hari tersebut akan terjadi Gerhana Matahari Total (GMT). Indonesia akan menjadi satu-satunya negara yang akan dilalui oleh GMT. Meskipun juga ada beberapa wilayah di lautan pasifik (Mikronesia) yang berupa pulau-pulau karang kecil yang tidak memiliki bandara. Di Indonesia, hanya beberapa daerah tertentu akan yang akan mengalami GMT atau 100%. Daerah-daerah tersebut antara lain : Sumatera (Palembang), Kalimantan (Pangkalan Bun, Sampit, Palangkaraya, Tanah grogot, Balikpapan), Sulawesi (Poso, Luwuk), Dan Maluku Utara (Ternate). Daerah-daerah lain di Indonesia akan tetap bisa menyaksikan gerhana matahari sebagian.

Meskipun tidak seheboh persiapan negara-negara barat (misal Amerika menyongsong GMT 21 Agustus 2017), Masyarakat Indonesia khususnya di daerah-daerah yang akan dilewati GMT menyambut antusias. Di Sigi Sulawesi misalnya akan melaksanakan festival GMT, bahkan rencananya juga akan dihadiri oleh Wakil Presiden Indonesia. Tidak ketinggalan masyarakat Indonesia di daerah lain yang akan mengalami gernaha matahari sebagian juga menyambut antusias. Apalagi GMT ini bersamaan dengan libur nasional, hari raya Nyepi.

Di Yogya misalnya, disamping akan menggelar nonton bareng di Monumen Tugu, juga ada nonton bareng di alun-alun utara bersama club pencinta antronomi Kota Yogya (Jogya Astro Club). Di Palembang, di Belitung, di Kalimantan, Sulawesi dan Ternate juga sudah mulai berdatangan para pengunjung termasuk ilmuwan, wartawan, reporter TV dan turis asing yang akan menyaksikan kejadian alam langka ini.

Dampak Melihat langsung Matahari Saat Gerhana

Astroadventuresdotnet_2

Saat aman dan berbahaya menyaksikan gerhana (Sumber : Astroadventures.net)

Littmann, Espenak, & Willcox, (2008), dalam bukunya yang berjudul Totality, Eclipses of the Sun mengingatkan bahwa menyaksikan lingkaran sinar matahari secara langsung saat gerhana matahari total atau melalui viefinder kamera, atau binocular atau teleskop saat matahari seperti bulan sabit (Baily’s Beads) dapat menyebabkan kerusakan permanen pada mata (kebutaan permanen). Masih dibuku yang sama, Lucian V. Del Priore, M.D., Ph.D., seorang dokter ahli mata mengatakan bahwa bahaya dari menyaksikan langsung gerhana matahari tidak selalu bisa diprediksi.

Sedangkan dr. Fulvio Parentin dari Bagian Mata Children’s Hospital “Burlo Garofolo” Trieste, Italia mengingatkan bahwa semua informasi yang dirilis oleh media, seperti laporan tentang kasus retinopati yang berhubungan dengan gerhana matahari, pada kebanyakan kasus penyebabnya adalah penggunaan filter yang terbukti tidak memadai untuk memblokir radiasi UV.

Menyaksikan gerhana matahari sebagian pun demikian. Artinya sangat berbahaya jika disaksikan secara langsung dengan mata telanjang. Harus ada tindakan pencegahan yang sama agar aman saat melihat gerhana matahari sebagian.

Ingat, sangat berbahaya untuk melihat langsung ke matahari dengan mata telanjang atau melalui teleskop atau teropong. Jika nekat, risiko kebutaan mungkin saja akan terjadi.  Jangan menggunakan kacamata hitam, atau kacamata tukang las. Meskipun ini mungkin tampak untuk memblokir beberapa cahaya matahari, tapi kacamata ini tetap meneruskan sinar ultraviolet yang berbahaya dari matahari. Dalam jumlah yang cukup, dapat menyebabkan kerusakan serius pada mata. Termasuk jangan mencoba untuk melihat gerhana melalui mata menyipit.

WHO sendiri dalam salah satu informasinya menyampaikan bahwa memang Fenomena langit ini pasti akan menarik perhatian astronom dan jutaan orang untuk menyaksikannya, seperti yang telah dilakukan selama berabad-abad. Sayangnya, fenomena gerhana matahari ini juga akan menyebabkan banyak kasus cedera retina dan bahkan hilangnya penglihatan, disebut sebagai “kebutaan gerhana”. Kecuali tindakan pencegahan dilakukan. Bukti statistik terutama dinegara-negara maju jarang dipublikasikan. Kebutaan akibat gerhana sering tidak dilaporkan karena penderita hanya berkonsultasi dengan spesialis mata dalam jangka waktu lama setelah melihat langsung gerhana. Bahkan dalam banyak kasus, kondisi tersebut tidak dikaitkan dengan dampak melihat langsung ke matahari saat gerhana. Pada sebagian besar negara-negara berkembang, statistik tersebut tidak ada sama sekali. Setelah gerhana matahari parsial tahun 1952, misalnya, 52 kasus kebutaan atau gangguan penglihatan berat yang terdaftar di seluruh dunia. Setelah gerhana matahari total tahun 1970 dan 1980, masing-masing 145 dan 112 kasus gangguan penglihatan serius yang dilaporkan.

 

Lalu bagaimana Keamanan Saat Menyaksikan Gerhana Matahari ini?

Baca lebih lanjut

Iklan

RIMPU Yogya Gelar Pentas Budaya

Gadis Bima_Kareku Kandei

Gadis Bima dengan Rimpunya_Kareku Kandei

Hidup di Kota Budaya; Yogyakarta, ternyata telah memberikan efek positif terhadap kesadaran akan budaya bangsa dan daerah kepada para mahasiswa dan pemuda dari daerah seperti dari etnis Bima (Kabupaten Bima, Kota Bima dan kabupaten Dompu) yang ada di Kota Yogya. Jauh dari kampung halaman, rindu akan suasana masa kecil, belajar dari lingkungan Kota Budaya seperti Yogyakarta paling tidak telah mengilhami sekelompok mahasiswa dan pemuda yang peduli akan budaya daerah (Bima) untuk melestarikannya disini. Karena itu Komunitas RIMPU yang ada di Yogyakarta sukses menyelenggarakan pentas seni budaya di Aula Theater Eska Universitas Islam Negeri Sunan Kaligaja (UIN SUKA) Yogyakarta (31/10/15).
Dipintu masuk, para tamu sudah disambut dengan gapura “Santabe” lalu semacam tema “MAI TA KASAMA WEKI, TA KAWARA RO KALAMPA KU NGGAHI RA RAWI RASA LOA KAI RASO”
Acara yang juga didukung oleh Perhimpunan Mahasiswa (Kepma) Bima dan Dompu (IKPMD) ini berlangsung meriah. Sekitar seribu an penonton tampak antuasias mengikuti pentas seni budaya ini. Bahkan hingga pentas utama telah berakhir, sebagian penonton seperti enggan meninggalkan tempat duduknya.

Baca lebih lanjut

Welcome to Bima

Bima, nama salah satu daerah diujung timur Pulau Sumbawa Propinsi NTB. Bima saat ini terdiri dari dua Bimapemerintahan yaitu Kabupaten dan Kota Bima.

Penduduk Bima biasa menyebut dirinya Dou Mbojo. Dan ketika berinteraksi dengan Dou Mbojo, hampir pasti kita akan mendapati kata “Kalembo Ade”. Kata yang sangat luas arti atau maknanya. Sabar, harap maklum bahkan juga bisa berarti maaf, semangat dan optimis bahkan banyak lagi sesuai sikon pengucapannya.

Jika dulu hotel dan penginapan sangat terbatas, kini di Kota Bima sudah berdiri beberapa hotel “megah” dan nyaman untuk ukuran Bima. para tamu memiliki banyak pilihan. Demikian juga jenis jajanan maupun kuliner. Meski masih sangat terbatas untuk masakan khas Bima, tapi sebagai daerah yang dikelilingi laut, seafood tentu menjadi pilihan ideal.

Seafood di Kota Bima disediakan oleh hampir seluruh warung atau rumah makan. Jika bosan didalam gedung, bisa menikmati sambil menunggu sunset atau malam di Pantai Amahami, Lawata, Pertamina, Wadumbolo hingga batas Kota dan kabupaten Bima yaitu Ni’u. Atau jika ingin lebih jauh (sekitar 15-20 menit dari Kota Bima) bisa menuju arah Belo/Bandara Bima. Di Panda kita bisa menikmati sunset sambil menikmati kelapa muda atau jagung bakar/rebus yang disediakan disepanjang jalan.

Bosan berada di dalam hotel, bisa mengelilingi Kota Bima. Di ujung timur kota (Kumbe) bisa menikmati “oi tua” (Legen atau sari buah lontar) yang sangat manis. Pulang dari sana, bisa mampir di Rabadompu untuk melihat sentra-sentra pengrajin tenunan Bima.

Jika waktu masih cukup, bisa juga melihat aktifitas bongkar muat di Pelabuhan Bima bahkan menuju Ule. Dari atas jalanan Ule yang menuju Kolo kita bisa melihat Kota Bima dari arah laut. Pilihan lainnya adalah ke makam Raja-Raja Bima Danatraha. Dari ketinggian Danatraha hampir semua wilayah Kota Bima bisa dinikmati.

Untuk mengelilingi itu semua jika seorang diri, bisa menggunakan jasa Ojek yang banyak di seputaran Kota. Atau jika tujuannya dalam jarak dekat misal Museum ASI Mbojo dan pelabuhan bisa menggunakan jasa Benhur, alat transportasi lokal sejenis dokar/delman.

Selamat datang dan selamat menikmati Bima…..

Gerhana Bulan 26 April 2013

Pada tanggal 26 April 2013 (jum’at dKota Bima_Gerhana Bulan 260413ini hari) sekitar pukul 04.07 wita terjadi gernaha bulan sebagian atau menurut penulis sangat tipis. seperti dijelaskan Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan sekaligus peneliti astronomi dan astrofisika LAPAN Thomas Djamaluddin, terjadi sebagian karena hanya 1,5% permukaan bulan yang sedang purnama.

Saking kecilnya permukaan Bulan purnama yang tertutupi, imbuhnya, masyarakat awam bisa jadi tak sadar sedang berlangsung gerhana bulan. Puncak gerhana Bulan ini pada pukul 03.07 WIB.

“Hanya di tepi piringan Bulan purnama saja, sedikit saja di tepinya. Piringan purnama itu tetap terlihat terang, sedikit hitam di tepinya, orang awam mungkin tidak sadar bila itu gerhana. Kalau bulan terlihat sabit itu 90 persen tertutupi, kalau ini hanya 1,5 persen,” jelas Thomas kepada news.detik.com.

hasil pantau penulis dari Lingkungan Permata Santi Kota Bima, pun demikian adanya. Sangat tipis. bahkan itu baru terlihat kala melakukan proses zooming pada foto bulan tersebut.

Berikut adalah foto gernaha bulan yang berhasil tertangkap D5100 plus kit 18-55.

Rakor APEKSI diMulai, Menkop UKM Hadir di Kota Bima

Menkop UKM

Kota Bima_Menkop UKM di Dampingi Walikota Bima

Rapat Koordinasi (Rakor) Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI)Resmi dimulai di Kota Bima (14/11/12). Rakor APEKSI ini dihadiri oleh 13 walikota wilayah IV yang terdiri dari : Kota Kupang (NTT), Kota Bima, Kota Mataram (NTB), Kota Denpasar (Bali), Kota Probolinggo, Kota Pasuruan, Kota Malang, Kota Batu, Kota Surabaya, Kota Kediri, Kota Blitar dan Kota Madiun (Jatim).

Membuka Rakor APEKSI tersebut, hadir Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Mengah (UKM), Dr. Syarifuddin Hasan, SE, MM, MBA yang sekaligus meresmikan lapak Pedagang Kaki Lima (PKL) di Lapangan Pahlawan Raba. Di Area Lapangan pahlawan Raba juga telah berdiri stand untuk pameran expo yang menampilkan produk unggulan dari ketigabelas daerah yang menjadi peserta Rakor APEKSI. Termasuk stand bagi UKM serta pelaku dunia usaha lain di Kota Bima seperti Bank, Pegadaian, Dealer Kendaraan, Unit Produksi SMK ,dll. Baca lebih lanjut

Pantai Ule Kota Bima

Pantai Ule Kota Bima

Pantai Ule Kota Bima (Foto: ko Icang)

Pantai Ule adalah salah satu pantai yanga ada di sekitar Kota Bima. Letaknya disepanjang utara pelabuhan Bima. Untuk menuju ke pantai Ule hanya butuh waktu 5 menit dari Pusat Kota Bima. Jalan tembus tujuan Kolo yang sudah di aspal mulus membuat perjalanan ke Pantai Ule menjadi sangat mudah untuk dicapai.

Dulunya Pantai Ule sangat ramai sebagai lokasi wisata. Kini kondisi pantai nampak kotor dan untuk mengakses pantai agak kesulitan. Hal ini mengingat sepanjang pantai tersebut sudah dipetak/dipagari oleh pemilik. (Mestinya dari awal Pemkot Bima dan pihak terkait merencanakan agar para pemilik lahan disepanjang pantai menyediakan jalur / gang khusus bagi masyarakat umum untuk menuju pantai)

Jumat sore (09/11/12), mencoba mencari view dan inilah hasil jepretan saat itu……..

Wera, Pesona yang Terabaikan

Wera, Kecamatan yang berada di utara Kabupaten Bima ini secara umum merupakan daerah yang terkesan tandus dan kering. Hal ini dikarenakan sebagian besar wilayahnya adalah gunung dan bukit batu yang tak subur. Tidak semuanya seperti itu. Di Wera ada lahan pertanian yang subur, ada hamparan sawah ladang yang luas. Sebelah utara Kecamatan Wera langsung berbatasan dengan laut Flores. Tampaknya semua komposisi topografi lengkap adanya di Wera.

Inilah sebagian pesona Wera yang terekam lensa :