Posts Tagged ‘ Yogyakarta ’

Yogya Istimewa

Air Mancur plus laser di Kaliurang

Selalu ada yang baru dan seru di Yogya. Berbagai destinasi baru wisata bermunculan tiap saat/tahun. Hal ini makin melengkapi ciri Yogya yang telah memiliki beragam tempat wisata, baik wisata belanja maupun wisata alamnya. Jika Kabupaten Sleman dan Bantul adalah dua Kabupaten DIY yang masuk 10 besar nilai Indeks Pariwisata Indonesia, maka Kota Yogyakarta adalah salah satu kota tujuan utama wisatawan mancanegara.

Yogya bukan hanya Malioboro, Prambanan, atau Parangtritis. Dukungan sosial media makin mempopulerkan banyak tempat wisata baru di Yogya.  Dari tebing breksi, hutan mangrove, hutan pinus, puncak Becici yang baru dikunjungi Obama, pantai Timang, Air Terjun, dll.

Baca lebih lanjut

Rangga Muslim Perkasa, Idola Baru PSIM Yogya dari Bima

Rangga Muslim Perkasa_010Rangga Muslim Perkasa adalah idola baru di kalangan suporter PSIM Yogyakarta. Rangga telah mampu memikat hati para Brajamusti mania sejak bergabung dengan PSIM awal 2014 lalu. Nama Rangga Muslim kerap dinyanyikan suporter PSIM kala PSIM bertanding. Termasuk kala PSIM bertanding di Stadion Sultan Agung melawan Persipur Purwodadi (7/5/16). Penampilan ciamik Rangga sejak bergabung dengan skuad PSIM  nampaknya menjadi alasan bagi para pendukung tim dari Kota Gudeg ini untuk menyanyikan nama “Rangga Muslim”. Sebagai seorang winger, Rangga memiliki drible dan akurasi tembakan yang cukup akurat. Gol demi gol pun telah lahir dari kakinya. Mungkin itulah salah satu cara Rangga membalas “penghargaan” dari para pendukung Laskar Mataram tersebut. Terkini, saat bertanding melawan Persipur tersebut, Rangga ikut menyumbangkna gol krusial atas keunggulan PSIM  3 gol tanpa balas. Gol nya di penghujung babak pertama memperlihatkan ketenangan dan finishing touch yang sempurna. Maka kembali “Rangga Muslim” menjadi alunan nyanyian dari suporter PSIM di tribun selatan. Maka kembali tepuk sorak dan standing applause diberikan kepada pemuda kelahiran Bima-NTB 22 tahun silam ini. Baca lebih lanjut

Ekspresi ‘Kartini” 2016, SDN Condong Catur

Yeah pas noleh

Yeah pas noleh

Peringatan hari Kartini dilaksanakan tiap Tanggal 21 April. Hari yang  disebut sebagi penanda lepasnya kaum wanita Indonesia dari belenggu kebodohan. Hari menuju masa yang lebih beradab, bependidikan dan juga kesetaraan atau emansipasi bagi setiap wanita. Hari menuju menuju pencerahan, hari menuju masa depan gemilang.

SDN Condong Catur Depok Sleman juga menggelar upara peringatan hari Kartini ini. Anak-anak kelas I-VI telah siap dengan pakaian adat masing-masing. Mereka tampak cantik dan bahkan membuat sebagian anak-anak tidak saling mengenal satu sama lain. “Oh… itu teman saya? Kok beda yah?” dan lain-lain komentar anak-anak. Khususnya bagi yang perempuan, kebaya dan sanggul adalah ciri yang utama. Tentu saja, Hari Kartini bukan sekedar dandan bagi kaum wanita atau cantik memakai baju kebaya nasional. Meraka terlihat bangga, senang, dan bergembira dengan pakaiannya. meskipun beberapa tampak menguap saat mengikuti upacara (nah… ini terlalu semangat bangun kepagian atau kelamaan bobok nyiapin baju untuk dipakai?). Baca lebih lanjut

“Kartini” di SDN Condong Catur Depok Sleman Yogyakarta

Upacara

Upacara

Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap Tanggal 21 April selalu ada upacara memperingati Hari Kartini. Hari dimana Kartini lahir (tepatnya 21 April 1879). Hari yang dimaknai sebagai  hari emansipasi wanita.  Lupakan segala kontroversinya, ambil hikmahnya. Jangan sampai peringatan hanya dimaknai secara ceremonial belaka. Semangat Kartini untuk belajar dan belajar mensejajarkan diri dengan bangsa lain, semangat Kartini dalam USAHA memajukan pendidikan kaum perempuan.  Semboyan “Habis Gelap Terbitlah Terang”,  harus terus bergema untuk membangkitkan motivasi terutama kalangan anak-anak (perempuan), remaja dan kaum perempuan Indonesia umumnya. Semangat yang harus ditanamkan sejak dini kepada anak-anak didik, bahwa siapapun kamu, termasuk anak-anak perempuan bisa jadi apa saja kelak asal memiliki semangat, kemauan, kesungguhan dan kegigihan dalam belajar. Banyak lagi dan lagi yang bisa digelorakan untuk anak-anak, remaja putri dan kaum perempuan Indonesia dari contoh perjuangan yang dilakukan oleh RA Kartini, Dewi Sartika, Tjut Nyak Dien, Christina Martha Tiahahu, dll. Intinya gender bukan halangan untuk maju.

SD Negeri Condong Catur adalah salah satu sekolah dasar dengan akreditasi A di Depok Sleman Yogyakarta. Seperti tahun lalu, SDN Condong Catur, tahun ini kembali menggelar upara peringatan hari Kartini. Anak-anak kelas I sampai kelas VI mengikuti upacara peringatan Hari lahir Kartini tersebut dihalaman Sekolah SDN Condong Catur. Upacara dimulai tepat pukul 08.00 wib. Semua perangkat upacaranya adalah perepuan. Mulai dari pembina upacara (meski Kepala sekolahnya Laki-laki), pemimpin upacara, pembaca UUD 45, Do’a, sampai komandan regu. Mereka nampak semarak dengan warna warni pakaian adat nya. Moment ini dimanfaatkan sekolah untuk mengasah kreatifitas dan keberanian siswa untuk tampil. Berbagai lomba dan atraksi digelar untuk memeriahkan peringatan tersebut. Ada Lomba Dimas-Diajeng (Maaf lupa apa benar? Ini lomba menampilkan pasangan antar kelas), Lomba mencipta dan membaca puisi, ada Pidato, Ada Nyanyi, ada Tarian. Hingga tak terasa sekitar jam 11.00 wib semua rangkaan cara berakhir (semoga pada kegiatan lain/berikutnya lebih banyak lagi siswa yang “dipaksa” tampil, untuk mengasah kreatifitas, ketrampilan dan keberanian siswa) Baca lebih lanjut

Tips Aman Menyaksikan Gerhana Matahari

gerhana-matahari-sebagian_kota-bima-100513_06-49-wita

Gerhana Matahari Sebagian, Tahun 2013

Hari Rabu, Tanggal 9 Maret 2016 besok, alam Indonesia akan menjadi sangat special. Dimana, pada hari tersebut akan terjadi Gerhana Matahari Total (GMT). Indonesia akan menjadi satu-satunya negara yang akan dilalui oleh GMT. Meskipun juga ada beberapa wilayah di lautan pasifik (Mikronesia) yang berupa pulau-pulau karang kecil yang tidak memiliki bandara. Di Indonesia, hanya beberapa daerah tertentu akan yang akan mengalami GMT atau 100%. Daerah-daerah tersebut antara lain : Sumatera (Palembang), Kalimantan (Pangkalan Bun, Sampit, Palangkaraya, Tanah grogot, Balikpapan), Sulawesi (Poso, Luwuk), Dan Maluku Utara (Ternate). Daerah-daerah lain di Indonesia akan tetap bisa menyaksikan gerhana matahari sebagian.

Meskipun tidak seheboh persiapan negara-negara barat (misal Amerika menyongsong GMT 21 Agustus 2017), Masyarakat Indonesia khususnya di daerah-daerah yang akan dilewati GMT menyambut antusias. Di Sigi Sulawesi misalnya akan melaksanakan festival GMT, bahkan rencananya juga akan dihadiri oleh Wakil Presiden Indonesia. Tidak ketinggalan masyarakat Indonesia di daerah lain yang akan mengalami gernaha matahari sebagian juga menyambut antusias. Apalagi GMT ini bersamaan dengan libur nasional, hari raya Nyepi.

Di Yogya misalnya, disamping akan menggelar nonton bareng di Monumen Tugu, juga ada nonton bareng di alun-alun utara bersama club pencinta antronomi Kota Yogya (Jogya Astro Club). Di Palembang, di Belitung, di Kalimantan, Sulawesi dan Ternate juga sudah mulai berdatangan para pengunjung termasuk ilmuwan, wartawan, reporter TV dan turis asing yang akan menyaksikan kejadian alam langka ini.

Dampak Melihat langsung Matahari Saat Gerhana

Astroadventuresdotnet_2

Saat aman dan berbahaya menyaksikan gerhana (Sumber : Astroadventures.net)

Littmann, Espenak, & Willcox, (2008), dalam bukunya yang berjudul Totality, Eclipses of the Sun mengingatkan bahwa menyaksikan lingkaran sinar matahari secara langsung saat gerhana matahari total atau melalui viefinder kamera, atau binocular atau teleskop saat matahari seperti bulan sabit (Baily’s Beads) dapat menyebabkan kerusakan permanen pada mata (kebutaan permanen). Masih dibuku yang sama, Lucian V. Del Priore, M.D., Ph.D., seorang dokter ahli mata mengatakan bahwa bahaya dari menyaksikan langsung gerhana matahari tidak selalu bisa diprediksi.

Sedangkan dr. Fulvio Parentin dari Bagian Mata Children’s Hospital “Burlo Garofolo” Trieste, Italia mengingatkan bahwa semua informasi yang dirilis oleh media, seperti laporan tentang kasus retinopati yang berhubungan dengan gerhana matahari, pada kebanyakan kasus penyebabnya adalah penggunaan filter yang terbukti tidak memadai untuk memblokir radiasi UV.

Menyaksikan gerhana matahari sebagian pun demikian. Artinya sangat berbahaya jika disaksikan secara langsung dengan mata telanjang. Harus ada tindakan pencegahan yang sama agar aman saat melihat gerhana matahari sebagian.

Ingat, sangat berbahaya untuk melihat langsung ke matahari dengan mata telanjang atau melalui teleskop atau teropong. Jika nekat, risiko kebutaan mungkin saja akan terjadi.  Jangan menggunakan kacamata hitam, atau kacamata tukang las. Meskipun ini mungkin tampak untuk memblokir beberapa cahaya matahari, tapi kacamata ini tetap meneruskan sinar ultraviolet yang berbahaya dari matahari. Dalam jumlah yang cukup, dapat menyebabkan kerusakan serius pada mata. Termasuk jangan mencoba untuk melihat gerhana melalui mata menyipit.

WHO sendiri dalam salah satu informasinya menyampaikan bahwa memang Fenomena langit ini pasti akan menarik perhatian astronom dan jutaan orang untuk menyaksikannya, seperti yang telah dilakukan selama berabad-abad. Sayangnya, fenomena gerhana matahari ini juga akan menyebabkan banyak kasus cedera retina dan bahkan hilangnya penglihatan, disebut sebagai “kebutaan gerhana”. Kecuali tindakan pencegahan dilakukan. Bukti statistik terutama dinegara-negara maju jarang dipublikasikan. Kebutaan akibat gerhana sering tidak dilaporkan karena penderita hanya berkonsultasi dengan spesialis mata dalam jangka waktu lama setelah melihat langsung gerhana. Bahkan dalam banyak kasus, kondisi tersebut tidak dikaitkan dengan dampak melihat langsung ke matahari saat gerhana. Pada sebagian besar negara-negara berkembang, statistik tersebut tidak ada sama sekali. Setelah gerhana matahari parsial tahun 1952, misalnya, 52 kasus kebutaan atau gangguan penglihatan berat yang terdaftar di seluruh dunia. Setelah gerhana matahari total tahun 1970 dan 1980, masing-masing 145 dan 112 kasus gangguan penglihatan serius yang dilaporkan.

 

Lalu bagaimana Keamanan Saat Menyaksikan Gerhana Matahari ini?

Baca lebih lanjut

Yogyakarta, selalu ada cerita

firraz paris 013Yogyakarta, Kota istimewa yang selalu melahirkan cerita demi cerita. Tentang kesahajaan dan keramahan orang-orang nya, tentang mahasiswa dan plat kendaraan dari hamper seluruh penjuru negeri, juga tentang kuliner yang apa saja ada. Yogya selalu punya cerita yang tak pernah habis. Seperti obyek wisatanya, yang kini tidak melulu cerita tentang Borobudur, Prambanan atau Parangtritis. Banyak obyek wisata baru yang akan menjadi cerita dari Yogyakarta. Bunga “tulip” yang heboh diawal musim hujan oleh aksi selfie para muda mudi, pantai pesisir selatan yang tidak hanya Parangtritis semisal Indrayanti di Gunung Kidul, Goa Pindul masih di Gunung Kidul, atau kalibiru yang menantangmu untuk menjuntai dengan latar alam yang indah, bahkan pegunungan pasir “Gumuk Pasir” di sisi Pantai Parangtritis. Semuanya ada di Yogyakarta.

dan…

sejak 2015, telah dibuka Tebing Breksi. Tebing Breksi ini satu jalur menuju Candi Ijo. Candi yang lokasinya tertinggi di Yogya. Sehingga dari ketinggian Tebing Breksi bisa melihat Kota Yogya terutama lalulintas bandara Adi Sucipto. Demikian juga dari ketinggian Candi Ijo, bisa menyapu pandangan keseluruh Kota Yogya. Untuk masuk Tebing Breksi hanya diharuskan membayar biaya parkir motor Rp.2000, dan mobil Rp. 5000. Pengunjung Candi Breksi diharuskan turun dari tebing tepat saat adzan maghrib tiba. Untuk tiket masuk tebing breksi, pengelola meminta seikhlasnya. Sedangkan di Candi Ijo Tiket masuknya Rp. 5000. Setelah turun dari Candi Ijo/Tebing Breksi petualangan di daerah Kalasan bisa dilanjutkan ke Candi Ratu Boko. (Hanya saja untuk melihat Candi yang lebih terkesan sebagai gerbang ini dipungut tiket Rp. 25.000. Mungkin Kalau tiketnya Rp.10000, pengunjung akan lebih banyak yang datang).

Untuk menuju ke tiga lokasi ini dari Kota Yogyakarta bisa melalui jalan Solo atau Ring Road Utara. Selanjutnya bisa langsung belok kanan di Jalan Raya Piyungan atau sebelum itu bisa belok kanan di jalan Opak Raya dan selanjutnya ketemu Jln. piyungan dan lalu masuk Jln. Candi Ijo. Jalan menuju ke sana adalah jalan menanjak sekitar 35 derajat. Baca lebih lanjut