Posts Tagged ‘ Belajar foto ’

Street Foto

Street Photography (12)Saat ini semakin banyak yang menekuni hobby fotografi. Semakin banyak yang suka, semakin banyak juga aliran-aliran kesukaan. Termasuk yang menyukau fotografi jalanan atau street fotografi. Fotografi jalanan pada dasarnya adalah kegiatan memotret obyek (manusia dan interaksinya dengan yang lain-lain) di jalanan, di ruang public yang bersifat spontan, apa adanya dan dan cenderung tanpa disadari obyek (candid). Namun demikian, ada juga yang berpendapat tentang perlunya tetap berkomunikasi dengan obyek. Hal ini berkaitan dengan privasi seseorang/obyek. Artinya saat memotret orang yang sadar akan difoto, fotografer sebaiknya tersenyum sebagai tanda permisi untuk mengambil gambar. Jika objek membalas dengan senyuman, fotografer baru bebas mengambil foto. Setelah itu, fotografer sebaiknya menemui objek dan meminta izin lagi secara langsung. Demikian saran salah seorang fotografer kawakan pada sebuah seminat tentang fotografi jalanan. Baca lebih lanjut

Iklan

Cegah Pikun dengan Belajar Fotografi

gaya fotografer2Belajar fotografi memang harus diakui sebagai sesuatu hal yang sangat menyenangkan. Penguasaan tentang dasar-dasar konsep fotografi yang meliputi ISO  (ukuran sensitifisitas sensor kamera terhadap cahaya),  Aperture  (bukaan lensa saat foto diambil), dan  Shutter Speed (rentang waktu bukaan jendela di depan sensor kamera). Dengan “segitiga” fotografi ini, kita dapat menghasilkan foto yang sesuai keinginan kita. Foto-foto seperti yang kita lihat di koran dan majalah dapat juga kita hasilkan sendiri. Hal ini membuat kepuasan sendiri bagi fotografer apalagi bagi fotografer pemula.  Kepuasan ini tentu menyenangkan, membahagiakan.

Ternyata belajar fotografi tidak hanya memberikan kepuasan dan kesenangan, namun seperti dikutif dari situs jpnn.com bahwa belajar fotografi juga dapat mencegah kepikunan.

“Untuk orang-orang berusia lanjut atau di atas 60 tahun, mengisi TTS dan mendengarkan musik klasik dinilai sudah tidak cukup melindungi otak dari penurunan fungsi kognitif. Mempelajari hal-hal baru, seperti fotografi digital dan merajut lebih menantang dan menstimulasi otak. Baca lebih lanjut

Foto Gerhana Bulan Total

Foto gerhana bulan total yang terjadi pada Tanggal 8 Oktober 2014.

Dengan lensa 55-200mm dan mengutak atik berbagai setingan ISO, f, dan SS, jadilah beberapa foto berikut ini. Foto-foto pertama menggunakan ISO 6400, f/5,6, ss 4″-1/4″, foto-foto pertama adalah saat bulan masih ditutupi penuh oleh bumi, gelap sehingga harus pake ISO tinggi, seiring semakin luasnya area sinar bulan ISO turun bertahap ke 5000, 4000, 2000 bahkan yang terakhir jam 20.56 itu dengan ISO 320, f/18. ss 250 plus WB “aneh” direct sunlight.

 

Mahasiswa Bima di Yogya

Pusmaja_2015_11Mahasiswa dari Bima, baik Kabupaten maupun Kota Bima sebenarnya sangat banyak yang menempuh pendidikan di Yogyakarta. Hal ini sudah berlangsung lama. Ribuan mahasiswa Bima ini menyebar hampir disemua Universitas yang ada di Yogyakarta. Mulai dari D3 hingga S3. Bahkan yang berasal dari satu desa/kampung bisa lebih 15 orang.

Di Yogyakarta, disamping memiliki asrama yang disediakan oleh pemerintah daerah, mahasiswa Bima menyebar di kost, kontrakan maupun asrama kampus yang ada di Yogyakarta. Sebulan sekali biasanya ada pertemuan silaturahim dengan para sesepuh/tokoh masyarakat Bima yang ada di Yogyakarta. Atau secara insidentil mengadakan pertemuan menurut kelompok masing-masing. Misalnya Keluarga Mahasiswa Bima-Kepma, Perkumpulan Mahasiswa Pasca Sarjana-Pusmaja, perkumpulan yang kost dekat UGM, UNY-Sunmor, perkumpulan menurut daerah/kecamatan/desa asal dari Bima, missal mahasiswa Sape, Wera, Ncera, Donggo, Bolo, Woha, dll. Nama perkumpulannya juga macama-macam : IPMLY (Lambu), POWER (Wera), FORMAL (Langgudu), FIMNY (Ncera), FORKASY (Sila), HMNY (Ngali), HIMAWI (Ambalawi), Rimpu, Perkasa, IPMT (Tambora), PM KOBI (Kota Bima), Naga Nuri (Sape), Samada Angi atau IKPMD (Dompu), dll. Baca lebih lanjut

Ke Yogyakarta (lagi)

Pada April 1994, aku berujar aku akan sekolah sampai Doktor. Pada Tahun 2011, saat perjalanan pulang ke Bima, di atas kapal penyebrangan Khayangan-Poto Tano, aku berujar kalau aku akan lanjut sekolah lagi 5 tahun kemudian. Hal ini mengingat dan mempertimbangkan segi ekonomi. Pikirku, dalam 5 tahun aku sudah bisa mengumpulkan uang untuk lanjutkan sekolah.

Sepulang itu, aku kembali dengan rutinitas sebagai abdi negara, bekerja dan bekerja. Mencoba mempraktekkan ilmu yang kumiliki dengan mungkin sisa-sisa idealisme yang ada. Pada akhirnya, begitulah skenario Tuhan. Merubah jalan cerita yang banyak diluar perkiraan kita. Menulis proposal disertasi dalam semalam, mengajukan beasiswa dan setelah sekitar 6 bulan baru dipanggil untuk wawancara (padahal yang lain cuma 2 minggu). Adalah beberapa skenario Tuhan yang luar biasa, yang jika dipikir sungguh sempurna. Gak kebayang kalau aku tiba-tiba meninggalkan pekerjaan jika sudah dipanggil dalam 2 minggu itu, gak kebayang kalau aku bisa sekolah lagi lebih cepat dua tahun dari rencanaku 5 tahun. Gak kebayang jika ucapanku 20 tahun lalu kini jadi kenyataan. Ya, akhirnya aku kembali lagi ke kota ini : Yogyakarta. Aku kembali untuk lanjutkan “cerita dan impian”: Sekolah lagi. Kuliah lagi. Baca lebih lanjut

Ayo Ke Sirkuit Panda Bima

Motocross PandaYoooooooooooo………………
Begitu tereakan komentator setiap “besi-besi Jepang” itu menderu dari garis start. Lebih dari 10 Crosser beradu cepat membedah tanah dan menyisakan kepulan debu. Berpacu. Menderu… bersaing untuk jadi juara satu. Tak pelak, ketangkasan, kelihaian dan juga fisik mental beradu. Jika tidak, maka akan tertinggal. Akan ditinggal !

Gas dan kepulan debu serta jatuh bangun menjadi warna tersendiri yang membuat lomba semakin seru. Bahkan adu jotos bisa terjadi. Tetapi lomba tetaplah lomba. esensi semua olahraga adalah SPORTIFITAS. Baca lebih lanjut

Welcome to Bima

Bima, nama salah satu daerah diujung timur Pulau Sumbawa Propinsi NTB. Bima saat ini terdiri dari dua Bimapemerintahan yaitu Kabupaten dan Kota Bima.

Penduduk Bima biasa menyebut dirinya Dou Mbojo. Dan ketika berinteraksi dengan Dou Mbojo, hampir pasti kita akan mendapati kata “Kalembo Ade”. Kata yang sangat luas arti atau maknanya. Sabar, harap maklum bahkan juga bisa berarti maaf, semangat dan optimis bahkan banyak lagi sesuai sikon pengucapannya.

Jika dulu hotel dan penginapan sangat terbatas, kini di Kota Bima sudah berdiri beberapa hotel “megah” dan nyaman untuk ukuran Bima. para tamu memiliki banyak pilihan. Demikian juga jenis jajanan maupun kuliner. Meski masih sangat terbatas untuk masakan khas Bima, tapi sebagai daerah yang dikelilingi laut, seafood tentu menjadi pilihan ideal.

Seafood di Kota Bima disediakan oleh hampir seluruh warung atau rumah makan. Jika bosan didalam gedung, bisa menikmati sambil menunggu sunset atau malam di Pantai Amahami, Lawata, Pertamina, Wadumbolo hingga batas Kota dan kabupaten Bima yaitu Ni’u. Atau jika ingin lebih jauh (sekitar 15-20 menit dari Kota Bima) bisa menuju arah Belo/Bandara Bima. Di Panda kita bisa menikmati sunset sambil menikmati kelapa muda atau jagung bakar/rebus yang disediakan disepanjang jalan.

Bosan berada di dalam hotel, bisa mengelilingi Kota Bima. Di ujung timur kota (Kumbe) bisa menikmati “oi tua” (Legen atau sari buah lontar) yang sangat manis. Pulang dari sana, bisa mampir di Rabadompu untuk melihat sentra-sentra pengrajin tenunan Bima.

Jika waktu masih cukup, bisa juga melihat aktifitas bongkar muat di Pelabuhan Bima bahkan menuju Ule. Dari atas jalanan Ule yang menuju Kolo kita bisa melihat Kota Bima dari arah laut. Pilihan lainnya adalah ke makam Raja-Raja Bima Danatraha. Dari ketinggian Danatraha hampir semua wilayah Kota Bima bisa dinikmati.

Untuk mengelilingi itu semua jika seorang diri, bisa menggunakan jasa Ojek yang banyak di seputaran Kota. Atau jika tujuannya dalam jarak dekat misal Museum ASI Mbojo dan pelabuhan bisa menggunakan jasa Benhur, alat transportasi lokal sejenis dokar/delman.

Selamat datang dan selamat menikmati Bima…..